Akses Terbatas, Perjuangan Bidan Desa Perbatasan Entikong

  • 02 Mar 2026 13:34 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong - Pelayanan kesehatan di wilayah pedesaan masih menghadapi berbagai tantangan serius. Salah satunya dari Bidan desa sebagai ujung tombak layanan kesehatan dasar harus bekerja ekstra di tengah keterbatasan yang ada, kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Salah seorang bidan desa Lusia Mita yang bertugas wilayah Desa Pala Pasang Kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat.

Minta menceritakan, tenaga kesehatan yang bertugas dipedalaman, dengan beragam tantangan mulai dari akses infrastruktur hingga rendahnya kesadaran masyarakat menjadi tantangan sehari-hari. Akses infrastruktur yang kurang memadai menjadi kendala utama dalam menjangkau warga, seperti jalan rusak dan jarak tempuh yang jauh membuat pelayanan kesehatan tidak selalu dapat diberikan dengan cepat.

Kondisi ini kata Mita, dalam Obrolan Pengarustamaan Gender RRI entikong, Senin 2 Maret 2026, semakin terasa saat terjadi pada keadaan darurat seperti ibu hamil yang akan melahirkan, Fasilitas kesehatan desa belum sepenuhnya dilengkapi alat medis yang memadai, keterlambatan penanganan berisiko membahayakan keselamatan ibu dan bayi, Selain infrastruktur, keterbatasan sarana dan prasarana juga menjadi hambatan serius. Namun sampai saat ini Fasilitas kesehatan desa belum sepenuhnya dilengkapi alat medis yang memadai.

“Dalam menjalankan tugas, saya sering dihadapkan pada kondisi jalan yang kurang mendukung dan sarana pelayanan yang masih terbatas. Masih ada masyarakat yang kurang memahami pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin dan jikalau mereka sakit mereka lebih memilih minum obat sembarangan tanpa konsultasi,” ucap Mita.

Ia mengungkapkan, rendahnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan turut mempengaruhi efektivitas pelayanan. Edukasi kesehatan sebenarnya rutin dilakukan melalui penyuluhan dan kunjungan rumah, Namun ,perubahan pola pikir masyarakat membutuhkan waktu dan pendekatan berkelanjutan.

“Saya selalu berusaha memberikan pelayanan kesehatan semaksimal mungkin kepada masyarakat dengan alat yang tersedia. Namun, keterbatasan fasilitas terkadang membuat pelayanan tidak bisa dilakukan secara lengkap seperti di pusat kesehatan yang lebih besar,” ucapnya.

Sampai sekarang ini kata Mita, kebiasaan konsumsi obat sembarangan masih kerap ditemukan di lingkungan desa, dan Sebagian warga memilih membeli obat di warung atau menggunakan resep lama tanpa mengetahui dosis dan efek sampingnya. Kebiasaan tersebut berisiko memperparah kondisi kesehatan, Pasien sering datang ke fasilitas kesehatan ketika penyakit sudah dalam tahap yang lebih serius.

Meski menghadapi banyak keterbatasan, Mita sebagai bidan desa tetap menunjukkan dedikasi tinggi dalam melayani masyarakat. Komitmen untuk meningkatkan derajat kesehatan warga menjadi motivasi utama dalam menjalankan tugas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....