Perempuan Perbatasan Pilar Kemandirian dan Kesetaraan

  • 13 Okt 2025 10:00 WIB
  •  Entikong

KBRN, Entikong: Di tengah keterbatasan akses dan minimnya perhatian, seorang perempuan dari perbatasan Indonesia-Malaysia membuktikan bahwa perempuan bukan hanya bisa menjadi penggerak, tapi juga pondasi utama dalam pembangunan desa. Endang Rosmiati, aktivis perempuan asal Kabupaten Sanggau, telah puluhan tahun memperjuangkan kesetaraan gender dan kemandirian perempuan di wilayah terluar Indonesia.

Sebagai pendiri komunitas perempuan pedesaan di Entikong, Endang memfokuskan perjuangannya pada pemberdayaan ekonomi, pendidikan, serta perlindungan hak-hak perempuan. Ia memulai dari hal kecil, seperti mengajak ibu-ibu bertani organik, membuat kerajinan tangan lokal, hingga memasarkan produk desa ke luar daerah melalui jejaring digital.

“Perempuan di perbatasan sering kali dipinggirkan. Tapi kami tidak bisa terus menunggu bantuan dari luar. Kami harus bisa berdiri sendiri,” ujar Endang Rosmiati Dalam Dialog Pagi RRI Entikong, Senin (13/10/2025).

Selain memberdayakan perempuan dari sisi ekonomi, Endang juga aktif mendorong keterlibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan di desa. Ia percaya, pembangunan yang adil hanya bisa terwujud bila suara perempuan diakomodasi setara dengan laki-laki.

“Kami ingin perempuan desa tidak hanya jadi objek pembangunan, tapi pelaku utama. Karena mereka yang paling tahu kebutuhan komunitasnya,” tegas Endang.

Perjuangan Endang Rosmiati menjadi bukti bahwa perempuan perbatasan bukan sekadar simbol ketertinggalan, melainkan motor penggerak perubahan. Di tangan perempuan tangguh seperti Endang, desa-desa di perbatasan mulai bangkit dengan semangat mandiri dan setara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....