Uskup Labuan Bajo Dorong Festival Golo Koe Jadi Penggerak Pariwisata Berkelanjut
- 11 Agt 2026 05:43 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, menegaskan Festival Golo Koe tidak hanya menjadi ajang keagamaan dan kebudayaan, tetapi juga ruang kolaborasi lintas sektor untuk mendorong pariwisata yang berdampak bagi masyarakat lokal.
Hal tersebut disampaikan Mgr. Maksimus Regus saat membuka Festival Golo Koe 2026 di Marina Waterfront Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin 10 Agustus 2026.
Menurutnya, Festival Golo Koe telah memasuki tahun kelima penyelenggaraan dan untuk kedua kalinya masuk dalam jajaran Top 10 Kharisma Event Nusantara (KEN).
Dirinya juga menyampaikan apresiasi, kepada pemerintah pusat atas kepercayaan yang diberikan terhadap Festival Golo Koe sebagai salah satu event unggulan dalam KEN.
“Festival Golo Koe menjadi ruang perjumpaan, ruang kreativitas, perjalanan kolaboratif lintas aktor, lintas sektor, baik pemerintah dari pusat sampai daerah, maupun elemen-elemen masyarakat lokal kita di sini,” ujar Mgr. Maksimus.
Selain itu, Mgr. Maksimus mengatakan, penyelenggaraan Festival Golo Koe sejalan dengan upaya mengisi ruang pariwisata super premium Labuan Bajo agar pertumbuhan sektor pariwisata turut memberikan dampak konstruktif bagi masyarakat lokal.
Ia mengibaratkan Golo Koe yang berarti bukit kecil dalam bahasa Indonesia, sebagai simbol dari sebuah gerakan yang diharapkan mampu memberikan dampak besar bagi Labuan Bajo.
“Golo Koe, Ibu Menteri, dalam bahasa Indonesia berarti bukit kecil. Namun bukit kecil itu tentu akan berdampak besar. Mulai lima tahun lalu, dan pada tahun ini, kemudian pada tahun-tahun yang akan datang,” katanya.
Selain promosi pariwisata, Mgr. Maksimus menilai Festival Golo Koe juga memiliki peran dalam mendorong kesadaran terhadap keberlanjutan lingkungan ekologis di Labuan Bajo.
Ia mengingatkan keindahan alam Labuan Bajo yang menjadi modal utama pariwisata harus dijaga bersama. Menurutnya, kebijakan maupun aktivitas yang mengancam keberlangsungan lingkungan bertentangan dengan semangat pembangunan pariwisata berkelanjutan.
“Ketika kita menentukan pilihan bahwa pariwisata menjadi salah satu andalan kita, maka apa pun aktivitas atau kebijakan yang mengancam keberlangsungan lingkungan ekologis, saya kira itu berlawanan dengan iktikad kita bersama,” ucapnya.
Dirinya berharap perjalanan kolaboratif melalui Festival Golo Koe dapat melahirkan berbagai kegiatan yang memberikan dampak nyata, khususnya bagi masyarakat lokal yang berpotensi tertinggal dari pesatnya pembangunan pariwisata.
Lebih lanjut, Uskup
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....