Dari Modal Rp150 Ribu, Kopi Ende Tembus Dunia

  • 28 Apr 2026 11:45 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende –Berangkat dari kondisi ekonomi tertekan, seorang pengusaha kopi di Ende justru menemukan peluang usaha yang mengubah hidupnya. Dengan modal hanya Rp150 ribu, Carolus Naga membangun Virgil Coffee hingga dikenal di pasar internasional dan ikut mengangkat nilai kopi Flores.

Perjalanan usaha ini bermula dari kondisi ekonomi terjepit pada 2017. Dalam situasi tersebut, Carolus justru melihat peluang dan memulai usaha kopi secara mandiri, mulai dari membeli biji hingga mengolah dan mengemas produk sendiri.

“Saya owner, roaster, sampai tukang packing, semua saya kerjakan sendiri di awal,” kata Carolus dalam Obrolan Budaya RRI Ende, Senin, 27 April 2026.

Ia menjelaskan, keterbatasan modal tidak menjadi hambatan utama, selama ada keberanian untuk memulai. Filosofi Fortune Favors the Bold menjadi pegangan dalam membangun identitas brand sejak awal.

Strategi penguatan merek dilakukan dengan pendekatan berbeda, yakni membangun citra produk melalui media sosial sebelum legalitas usaha rampung. Cara ini berhasil menarik perhatian pasar, terutama pecinta kopi dari luar daerah yang mulai mengenal kopi Ende.

Seiring waktu, Virgil Coffee berkembang dari produk sederhana menjadi kopi artisan dengan kualitas yang konsisten. Produk tersebut kemudian meraih berbagai penghargaan, termasuk Anugerah Bangga Buatan Indonesia, yang membuka akses promosi ke pasar global.

Keikutsertaan dalam ajang internasional seperti Dubai Expo menjadi titik penting dalam memperluas jaringan pasar. Momentum ini sekaligus memperkenalkan kopi Ende sebagai komoditas unggulan yang memiliki daya saing di tingkat global.

Meski telah berkembang, Carolus menegaskan kesuksesan tersebut tidak lepas dari kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk komunitas kopi dan dukungan pemerintah melalui pelatihan teknis.

Ia juga menekankan pentingnya membangun usaha dengan identitas yang kuat dan berakar pada potensi lokal. Menurutnya, hal ini menjadi kunci agar produk daerah mampu bertahan dan berkembang di pasar yang lebih luas.

“Mulai saja dulu, jangan terlalu banyak pikir. Kalau ada niat, pasti ada jalan,” ujarnya.

Kisah ini menjadi gambaran bahwa keterbatasan bukan penghalang, melainkan titik awal untuk mendorong lahirnya wirausaha baru berbasis potensi daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....