Relawan Bencana Juga Rentan Alami Gangguan Psikologis

  • 06 Okt 2026 15:09 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Para relawan penanganan gempa Flores membutuhkan pendampingan kesehatan jiwa karena tekanan dan kelelahan yang dialami selama menjalankan tugas di lokasi bencana.
  • Ketua IPKJI Provinsi NTT Imakulata Bete menemukan bahwa kesehatan jiwa relawan menjadi salah satu fokus utama dalam pendampingan psikososial di wilayah terdampak gempa.
  • Relawan berada dalam situasi yang tidak mudah karena harus terus membantu masyarakat yang terdampak sambil mengelola kondisi psikologis mereka sendiri.

RRI.CO.ID, Kupang - Tidak hanya korban bencana, para relawan yang terlibat dalam penanganan gempa Flores juga membutuhkan pendampingan kesehatan jiwa. Tekanan dan kelelahan selama menjalankan tugas di lokasi bencana dapat memengaruhi kondisi psikologis relawan.

Ketua Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Imakulata Bete, mengatakan perhatian terhadap kesehatan jiwa relawan menjadi salah satu hal yang ditemukan saat tim melakukan pendampingan psikososial di sejumlah wilayah terdampak gempa Flores. Menurut Imakulata, para relawan berada dalam situasi yang tidak mudah karena harus terus membantu masyarakat yang terdampak bencana.

Kondisi tersebut dapat berlangsung dalam waktu yang panjang. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan secara psikologis.

“Kalau kami lihat kemarin, sempat juga kami fokus ke relawan, sampai mereka kelelahan secara psikologi,” ujar Imakulata Bete dalam wawancara, Senin,5 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, dalam situasi bencana, perhatian umumnya lebih banyak diarahkan kepada masyarakat yang menjadi korban. Padahal, orang-orang yang berada di garis depan untuk membantu korban juga menghadapi tekanan dan situasi yang tidak mudah.

Relawan dapat menyaksikan langsung kondisi korban, menghadapi situasi darurat, serta bekerja dalam waktu yang panjang. Kondisi tersebut dapat menimbulkan kelelahan apabila tidak diimbangi dengan perhatian terhadap kesehatan fisik dan mental.

Imakulata mengatakan, pendampingan psikososial penting dilakukan agar relawan dapat mengenali kondisi psikologis yang mereka alami sekaligus memiliki ruang untuk mengekspresikan tekanan selama menjalankan tugas. Menurut Imakulata, pengalaman menghadapi bencana dapat menimbulkan respons stres pada seseorang.

“Kalau stres awal, reaksi akut biasanya satu sampai empat minggu,” ucapnya.

Ia menambahkan, kondisi psikologis pascabencana tidak selalu terlihat secara langsung. Beberapa orang dapat mengalami kecemasan, sulit tidur, kewaspadaan berlebihan maupun respons emosional lainnya.

Karena itu, menurutnya, kesehatan jiwa perlu menjadi bagian dari penanganan bencana, tidak hanya bagi korban tetapi juga bagi relawan dan pihak-pihak yang terlibat dalam proses penanganan. IPKJI NTT bersama jajaran Direksi Rumah Sakit Jiwa Naimata Kupang sebelumnya turut melakukan pendampingan psikososial di sejumlah lokasi terdampak gempa Flores.

Tim tersebut difasilitasi oleh Pemuda Katolik POMDA NTT. Pada kloter pertama, tim terdiri dari delapan perawat jiwa dan empat bidan.

Pendampingan dilakukan di sejumlah posko di Nagekeo, kemudian berlanjut ke Borong, Manggarai Timur, serta wilayah Reo dan Dampek. Imakulata menegaskan, pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga pemulihan kondisi psikologis masyarakat dan mereka yang bekerja membantu korban.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....