IPKJI NTT Temukan Trauma dan Kecemasan Korban Gempa Flores
- 06 Okt 2026 14:59 WIB
- Ende
Poin Utama
- IPKJI Provinsi NTT memberikan pendampingan psikososial kepada masyarakat yang terdampak gempa Flores melalui tim multidisiplin bersama Rumah Sakit Jiwa Naimata Kupang.
- Pendampingan dilakukan di lokasi-lokasi terparah termasuk Kabupaten Nagekeo, Manggarai Timur, Reo, dan Dampek dengan fokus pada pemulihan kesehatan mental korban bencana.
- Ketua IPKJI Provinsi NTT, Imakulata Bete, memimpin tim kloter pertama yang dikordinasikan bersama Pemuda Katolik POMDA NTT untuk memastikan jangkauan pendampingan yang luas.
RRI.CO.ID, Kupang - Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) turut memberikan pendampingan psikososial bagi masyarakat terdampak gempa Flores. Pendampingan dilakukan bersama jajaran Direksi Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Naimata Kupang dengan difasilitasi Pemuda Katolik POMDA NTT.
Ketua IPKJI Provinsi NTT, Imakulata Bete, mengatakan tim kloter pertama menyambangi sejumlah lokasi terdampak. Di antaranya beberapa posko di Kabupaten Nagekeo, kemudian dilanjutkan ke Borong, Kabupaten Manggarai Timur, hingga wilayah yang mengalami dampak cukup besar, yakni Reo dan Dampek.
“Di kloter pertama itu kami ada delapan orang perawat jiwa dan empat bidan. Kami bergabung dengan RSKD Jiwa Naimata,” ujar Imakulata Bete dalam wawancara, Senin,5 Oktober 2026
Menurut Imakulata, pendampingan kesehatan jiwa menjadi bagian penting dalam penanganan korban bencana karena perhatian masyarakat pada fase awal bencana umumnya lebih banyak tertuju pada kebutuhan dasar seperti makanan dan tempat tinggal. Padahal, kata dia, dampak psikologis akibat bencana sering kali tidak terlihat secara langsung.
Saat menghadapi ancaman seperti gempa, tubuh manusia secara alami akan memberikan respons terhadap situasi darurat. Respons tersebut ditandai dengan keluarnya hormon stres yang membantu seseorang menghadapi ancaman.
“Biasanya orang akan lebih fokus ke logistik, seperti makanan dan tempat tidur. Tapi awal-awal mereka melupakan kesehatan jiwa, terutama traumatik,” katanya.
Ia menjelaskan, dalam kondisi bencana yang terjadi berulang atau disusul gempa susulan, tubuh dapat terus berada dalam kondisi waspada. Situasi tersebut dapat memicu kecemasan, gangguan tidur, serta trauma yang tidak selalu disadari oleh korban.
“Karena tidak terlihat, orang tidak aware dengan kondisi itu. Padahal dalam perjalanan biasanya itu akan memakan waktu yang paling lama dan butuh tidak hanya satu atau dua bulan, tetapi bisa bertahun-tahun. Bahkan ada yang traumanya dibawa sampai seumur hidup kalau tidak ditangani dengan baik,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....