Yohanes Kia Nunang: Pancasila Harus Hadir dalam Tindakan Nyata
- 02 Okt 2026 12:54 WIB
- Ende
Poin Utama
- Pengembangan literasi berbasis komunitas masih menghadapi tantangan utama berupa keterbatasan pendanaan, pemeliharaan sarana, dan keberlanjutan relawan.
- Pondok Baca Kampung Kabor telah menjalankan aktivitas literasi selama sekitar tujuh tahun dengan menghadapi masalah finansial untuk biaya operasional dan penyediaan buku berkualitas.
- Dua bangunan pondok baca mengalami kerusakan fisik karena konstruksi menggunakan bambu dan atap ilalang sehingga memerlukan perhatian dan pemeliharaan berkelanjutan.
RRI.CO.ID, Ende - Pengembangan gerakan literasi berbasis komunitas masih menghadapi tantangan, terutama keterbatasan pendanaan, pemeliharaan sarana, dan keberlanjutan relawan. Hal itu disampaikan Pegiat Literasi sekaligus Pendiri Pondok Baca Kampung Kabor Maumere, Yohanes Kia Nunang, S.I.K, dalam program Komunitas Bicara RRI Pro 1 Ende, Kamis 1 Oktober 2026, dalam rangka peringatan Hari Kesaktian Pancasila.
Yohanes mengatakan keterbatasan finansial menjadi salah satu persoalan utama selama sekitar tujuh tahun menjalankan aktivitas literasi di Kampung Kabor. Selain biaya operasional dan penyediaan buku bermutu, kondisi fisik dua bangunan pondok baca yang mulai rusak karena menggunakan bambu dan atap ilalang juga membutuhkan perhatian, sementara keberadaan relawan jangka panjang belum selalu dapat dipertahankan.
Meski demikian, Yohanes tetap mempertahankan aktivitas Pondok Baca Kampung Kabor karena kecintaannya terhadap anak-anak dan generasi muda Nusa Tenggara Timur. Ia menilai pondok baca tidak cukup hanya menjadi tempat membaca, tetapi perlu berkembang menjadi ruang dialog kewarganegaraan, kegiatan budaya lokal, dan pembentukan kepemimpinan generasi muda melalui aksi nyata.
Menurut Yohanes, nilai Pancasila dapat dihidupkan melalui kegiatan sederhana yang mempertemukan masyarakat tanpa membedakan latar belakang suku dan agama. Ia mencontohkan keterlibatannya mengunjungi sejumlah sekolah Islam dan membagikan buku, sebagai bentuk membangun ruang perjumpaan serta menghargai keberagaman dalam kehidupan sehari-hari.
Yohanes juga menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dalam menjaga persatuan bangsa melalui budaya membaca, berdiskusi, dan berbagi pengetahuan. Di tengah arus globalisasi dan derasnya informasi digital, ia mendorong anak muda untuk berpikir kritis, memahami budaya sendiri, serta memanfaatkan pengetahuan dan teknologi untuk menghasilkan karya yang memberi manfaat bagi masyarakat.
“Pada momentum Hari Kesaktian Pancasila, masyarakat dan pengambil kebijakan menjadikan nilai Pancasila sebagai tindakan nyata, bukan sekadar slogan atau materi pidato pada peringatan hari kebangsaan. Ia juga mengingatkan pentingnya menghentikan penyebaran narasi kebencian, memperkuat dialog, gotong royong, toleransi, dan menjadikan lingkungan sekitar sebagai ruang bersama untuk merawat persatuan”, ucapnya.
Kepada generasi muda NTT dan Flores, Yohanes berpesan agar buku dan ilmu pengetahuan dijadikan jendela untuk melihat dunia sekaligus sarana mengenali diri sendiri. Ia mendorong anak muda terus membaca, berpikir kritis, dan berkarya untuk daerah serta bangsa tanpa kehilangan akar budaya Nusa Tenggara Timur dan budaya Nusantara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....