Mutiara Pagi: Kebesaran Iman Terlihat dari Kerendahan Hati

  • 01 Okt 2026 08:17 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Kebesaran dalam Kerajaan Surga bukan tentang kedudukan tinggi, kekayaan, atau kekuasaan, melainkan tentang kerendahan hati, hidup dalam kasih, dan melayani sesama.
  • Theresia Mida, Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kabupaten Ende, menyampaikan pesan ini melalui program Mutiara Pagi Katolik pada hari Kamis, 1 Oktober 2026.
  • Theresia mengajak umat untuk merenungkan kembali ukuran kebesaran menurut ajaran Yesus dan mengubah perspektif mereka tentang kesuksesan dan keberhasilan dalam kehidupan sehari-hari.

RRI.CO.ID, Ende – Menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga bukan ditentukan oleh jabatan, kekayaan, maupun kekuasaan, melainkan oleh kerendahan hati, kasih, dan kesediaan melayani sesama. Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kabupaten Ende, Theresia Mida, S.Ag., dalam program Mutiara Pagi Katolik, Kamis 1 Oktober 2026.

Renungan yang mengangkat tema “Siapa yang Terbesar dalam Kerajaan Surga” tersebut merujuk pada Injil Matius 18:1-5. Theresia menjelaskan, dalam kehidupan sehari-hari manusia kerap mengukur kebesaran melalui jabatan, kekayaan, keberhasilan, maupun penghargaan dari orang lain.

Namun, cara Yesus memandang kebesaran tidak sama dengan ukuran dunia. Bagi Yesus, kebesaran justru tercermin dalam kerendahan hati, kasih, dan kesediaan melayani sesama.

“Menjadi besar di hadapan Tuhan bukan tentang memiliki kedudukan paling tinggi atau kekuasaan paling besar. Kebesaran itu terlihat dari hati yang mau merendahkan diri, hidup dalam kasih, dan bersedia melayani sesama,” ujar Theresia.

Menurutnya, sikap seorang anak kecil yang ditampilkan Yesus di tengah para murid menjadi gambaran tentang ketulusan, kesederhanaan, keterbukaan, dan kerendahan hati yang perlu dimiliki setiap orang beriman. Theresia mengajak umat Katolik untuk tidak menjadikan status dan kedudukan sebagai ukuran utama dalam menjalani kehidupan.

Sebaliknya, umat dipanggil untuk membuka hati dan memberikan diri dalam pelayanan kepada sesama. Pelayanan tersebut dilakukan dengan tulus tanpa mengharapkan pujian maupun penghargaan.

“Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri atau menganggap diri tidak berharga. Kerendahan hati adalah kesadaran bahwa kita memiliki keterbatasan dan membutuhkan Tuhan serta sesama dalam menjalani kehidupan,” ucapnya.

Ia mengatakan, nilai tersebut dapat diwujudkan dalam kehidupan keluarga, lingkungan kerja, Gereja, maupun masyarakat. Di antaranya dengan bersedia mendengarkan, menghargai orang lain, membantu mereka yang membutuhkan, serta tidak merasa diri lebih tinggi dari sesama.

Theresia juga mengingatkan umat agar tidak terjebak dalam persaingan untuk menunjukkan siapa yang paling hebat. Kehidupan bersama justru perlu dibangun dengan semangat persaudaraan, kasih, dan pelayanan.

“Kebesaran seseorang tidak hanya tampak dari apa yang dimilikinya, tetapi dari seberapa besar kasih yang mampu diberikan kepada orang lain,” katanya.

Melalui renungan tersebut, umat diajak menjadikan kehidupan sehari-hari sebagai ruang untuk menghadirkan kasih Kristus. Iman tidak berhenti pada kata-kata, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata yang membawa kasih, kedamaian, dan persaudaraan di tengah masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....