Layani Pasien di Tenda, Puskesmas Lao Terkendala Air Bersih dan Alkes Terbatas
- 30 Sep 2026 13:11 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai – Pelayanan kesehatan di UPTD Puskesmas Lao, Kabupaten Manggarai, tetap berjalan meski sebagian besar aktivitas pelayanan harus dilakukan di tengah keterbatasan pascagempa. Gedung utama puskesmas mengalami kerusakan sedang sehingga tidak dapat digunakan sepenuhnya untuk pelayanan seperti sebelum gempa.
Untuk menjaga pelayanan tetap berjalan, Puskesmas Lao memanfaatkan tenda bantuan dari BNPB sebagai ruang pelayanan sementara. Keterbatasan fasilitas, termasuk ketersediaan air dan peralatan kesehatan, menjadi tantangan yang harus dihadapi tenaga kesehatan dalam melayani masyarakat.
Kepada RRI, Senin 28 September 2026, Dokter gigi sekaligus Kepala Tata Usaha UPTD Puskesmas Lao, drg. Arnoldina Leok, mengatakan hasil pemeriksaan terhadap bangunan menunjukkan gedung utama mengalami kerusakan sedang. Kondisi tersebut membuat pemanfaatan ruangan harus dibatasi.
“Kalau rusak sedang itu tidak bisa dipakai untuk kegiatan banyak. Gedung hanya digunakan untuk beberapa orang dan tindakan darurat saja,” ujar drg. Arnoldina.
Dua tenda bantuan BNPB kemudian dimanfaatkan untuk mendukung sejumlah layanan kesehatan, mulai dari administrasi, pemeriksaan pasien, pelayanan ibu dan anak, pelayanan dewasa dan lansia, pemeriksaan laboratorium hingga pelayanan kesehatan gigi.
Meski pelayanan berlangsung di ruang sementara, jumlah kunjungan pasien relatif tidak mengalami perubahan signifikan. Dalam sehari, Puskesmas Lao masih melayani sekitar 30 hingga 70 pasien.
“Sejak gempa, kunjungan pasien setiap hari tidak berubah. Standarnya tetap sekitar 30 sampai 70 pasien setiap hari,” katanya.
Pelayanan kegawatdaruratan, termasuk penanganan pasien dengan luka akibat gempa maupun kondisi medis lainnya, juga tetap dilakukan dengan menyesuaikan fasilitas dan peralatan yang tersedia.
Sementara untuk pelayanan persalinan, Puskesmas Lao tidak menggunakan tenda. Pelayanan tersebut dipusatkan di aula untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat suhu dingin.
“Kalau persalinan di tenda, kami khawatir terjadi hipotermia pada bayi dan ibu,” jelasnya.
Selain keterbatasan ruang dan peralatan kesehatan, kondisi lingkungan di sekitar tenda juga menjadi tantangan bagi tenaga kesehatan. Debu dan angin yang masuk ke area pelayanan dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Kendalanya debu dan angin. Debu bisa meningkatkan risiko ISPA pada pasien. Selain itu, alat kesehatan yang kami miliki juga masih terbatas,” ungkap drg. Arnoldina.
Keterbatasan air juga menjadi salah satu kendala dalam mendukung aktivitas pelayanan sehari-hari. Meski demikian, tenaga kesehatan tetap berupaya menjaga pelayanan agar masyarakat dapat memperoleh pemeriksaan dan penanganan medis sesuai kebutuhan.
Di tengah kondisi pascagempa tersebut, Puskesmas Lao terus menyesuaikan pola pelayanan dengan kondisi bangunan dan fasilitas yang tersedia, sembari memastikan layanan kesehatan bagi masyarakat tetap berjalan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....