1.533 Anak Manggarai Dapat Trauma Healing, Posko SAPA Disiapkan di Enam Kecamatan
- 30 Sep 2026 11:55 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai – Sebanyak 1.533 anak terdampak gempa bumi di Kabupaten Manggarai telah mendapatkan layanan trauma healing hingga 21 September 2026. Pemerintah Kabupaten Manggarai melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) terus memperluas pendampingan untuk membantu pemulihan psikologis anak di wilayah terdampak.
Kepala Dinas P3A Kabupaten Manggarai, Maria Yasinta Aso, mengatakan layanan trauma healing dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor dan lembaga mitra yang tergabung dalam Gugus Tugas Kabupaten Layak Anak (KLA) Kluster V.
“Sudah banyak kegiatan trauma healing bekerja sama dengan lembaga mitra di setiap posko bencana, baik di posko komunal maupun posko mandiri,” ungkap Maria saat ditemui di ruang kerjanya.
Kolaborasi tersebut melibatkan Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan serta sejumlah lembaga swadaya masyarakat, di antaranya Ayo Indonesia, Plan Indonesia dan Wahana Visi Indonesia. Pendampingan dilakukan di posko pengungsian, paroki, hingga sekolah-sekolah yang terdampak gempa.
Metode pendampingan disesuaikan dengan usia anak. Untuk anak usia PAUD dan SD, kegiatan dilakukan melalui permainan edukatif, permainan tradisional, serta pendekatan komunikasi dengan mengajak anak bercerita tentang pengalaman yang mereka alami selama dan setelah gempa.
Dari proses pendampingan tersebut, petugas menemukan anak-anak yang menunjukkan tanda-tanda trauma dan membutuhkan penanganan lebih lanjut. Dinas P3A kemudian melakukan identifikasi untuk memastikan anak dengan kondisi yang membutuhkan perhatian khusus dapat dirujuk kepada tenaga psikolog.
Maria mengatakan keterbatasan sumber daya masih menjadi kendala dalam memenuhi seluruh permintaan pendampingan, terutama dari sekolah-sekolah yang berada di wilayah terdampak.
Untuk memperluas jangkauan layanan, Dinas P3A berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk meningkatkan kapasitas guru mulai dari tingkat PAUD hingga SMA. Guru diharapkan memiliki kemampuan dasar dalam memberikan pendampingan psikososial kepada peserta didik selama masa pemulihan.
Langkah serupa juga didorong di sektor kesehatan. Dinas P3A mendorong peningkatan kapasitas tenaga kesehatan agar dapat memberikan pendampingan kepada ibu dan anak melalui posyandu maupun fasilitas pelayanan kesehatan.
Selain trauma healing, Dinas P3A kini menyiapkan pembentukan posko Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) di sembilan titik yang tersebar pada enam kecamatan terdampak gempa.
Posko SAPA akan diisi petugas terlatih untuk menerima laporan, melakukan pendataan, serta memberikan pendampingan terhadap perempuan dan anak. Posko tersebut juga menjadi bagian dari upaya pencegahan dan penanganan kasus kekerasan di tengah masyarakat selama masa pemulihan pascabencana.
Menurut Maria, posko SAPA juga akan membantu masyarakat yang kehilangan dokumen penting akibat gempa, seperti akta kelahiran, KTP, dan Kartu Keluarga.
“Mungkin ada akta kelahiran, KTP, Kartu Keluarga yang hilang atau berada di bawah reruntuhan bangunan. Di posko SAPA ini kita akan berkolaborasi dengan lintas sektor, seperti Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau Dinas Kesehatan,” pungkas Maria.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....