BKSN di Tenda Darurat Jadi Ruang Pulihkan Trauma Siswa SMPN 1 Boleng

  • 29 Sep 2026 15:23 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat — Kegiatan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 di SMPN 1 Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, digelar di tengah keterbatasan akibat gempa bumi Flores. Meski berlangsung di bawah tenda darurat, kegiatan keagamaan tersebut justru menjadi ruang bagi siswa untuk memulihkan trauma sekaligus memperkuat karakter dan kehidupan spiritual.

Kementerian Agama Kabupaten Manggarai Barat turut mendampingi kegiatan tersebut melalui Penyuluh Agama Katolik Heribertus Kurniawan. Ia hadir memberikan materi penyuluhan sekaligus meninjau pelaksanaan BKSN yang melibatkan kepala sekolah, guru, dan ratusan siswa secara aktif, Selasa, 29 September 2026.

BKSN di SMPN 1 Boleng juga dikemas sebagai kegiatan lintas agama. Siswa Katolik mengikuti lomba lektor atau lektris, tutur Kitab Suci, dan kuis Kitab Suci dengan tema BKSN 2026, “Yesus Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius”. Sementara siswa Muslim mengikuti lomba adzan dan cerita Islami.

Guru Agama Katolik Petrus Sakur dan Guru Agama Islam Ita Purnama Sari mengatakan kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat pengetahuan, spiritualitas, serta membentuk karakter siswa yang beriman dan bertakwa. Kepala SMPN 1 Boleng, Hironimus Jehadun, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari pembinaan kerohanian, tetapi juga dimanfaatkan sebagai trauma healing bagi siswa setelah gempa.

Aktivitas perlombaan dan kebersamaan dinilai membantu mengurangi kecemasan anak-anak serta mengembalikan suasana belajar yang positif di tengah kondisi sekolah yang masih menggunakan tenda darurat. Heribertus Kurniawan mengapresiasi upaya sekolah mengubah keterbatasan pascabencana menjadi ruang pembentukan karakter.

Menurutnya, penguatan iman dan mental penting agar siswa dapat melewati dampak psikologis bencana sekaligus tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas dan toleran. "Kementerian Agama mengapresiasi inovasi SMPN 1 Boleng yang mampu mengubah keterbatasan di tenda darurat menjadi ruang pembentukan karakter yang adaptif. Melalui penguatan iman dan mental ini, kita optimis anak-anak kita tidak hanya pulih dari trauma bencana, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas dan bertoleransi tinggi," ujar Heribertus saat memberikan materi penyuluhan.

Kemenag Mabar berharap pola pembinaan mental dan spiritual berbasis sekolah tersebut dapat terus dilakukan di wilayah terdampak bencana untuk memastikan kebutuhan pendidikan, psikologis, dan spiritual siswa tetap terpenuhi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....