Cerita Superhero Jadi Cara 71 Siswa Nangakeo Pulihkan Diri usai Gempa

  • 14 Sep 2026 15:31 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende- Sebanyak 71 siswa SD Katolik Nangakeo diajak mengikuti trauma healing dengan pendekatan cerita superhero untuk membantu mereka menghadapi pengalaman gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula Kapela Desa Bheramari, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Sabtu 12 September 2026, mengajak anak-anak memahami pentingnya melindungi diri dan orang lain saat menghadapi bencana.

Andini Fransiska D. Saka, S.Pd., M.Psi., Guru Bimbingan dan Konseling SMA Katolik Frateran Ndao Ende sekaligus salah satu relawan Tim Gesit, saat diwawancarai RRI Ende mengatakan alasan penggunaan cerita superhero dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, tokoh superhero dipilih karena dekat dengan dunia anak sekaligus dapat menjadi cara sederhana untuk mengajarkan keberanian dan kepedulian.

Andini menjelaskan, anak-anak diajak memahami bahwa menjadi superhero bukan hanya tentang menyelamatkan orang lain, tetapi juga mampu menjaga dan melindungi diri sendiri. Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan pengalaman gempa agar mereka mengetahui langkah untuk menjaga diri maupun membantu orang-orang di sekitarnya ketika menghadapi situasi darurat.

Ia mengungkapkan, trauma healing bagi anak tidak harus selalu dilakukan melalui relaksasi atau meditasi seperti yang biasa digunakan pada orang dewasa. Metode yang lebih sederhana dan menyenangkan dinilai dapat membantu anak menjaga kestabilan emosi sekaligus perlahan mengelola pengalaman traumatis yang mereka alami.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses pemulihan atau recovery psikososial anak setelah bencana. Melalui kegiatan sederhana, relawan berupaya menyalurkan emosi positif sehingga anak-anak memiliki pengalaman yang lebih menyenangkan di tengah proses pemulihan,katanya.

Menurutnya, Ia melihat respons anak-anak selama kegiatan cukup baik karena mereka tampak senang dan menikmati setiap aktivitas yang diberikan. Kondisi tersebut menjadi tanda positif bahwa anak-anak mulai mampu mengontrol dan memanajemen emosinya dengan lebih baik setelah melewati pengalaman gempa

Ia menambahkan, kegiatan serupa tidak berhenti pada pendampingan yang dilakukan relawan. Guru, orang tua, teman sebaya dan lingkungan sekitar diharapkan dapat terus memberikan penguatan agar anak-anak memiliki ruang yang aman untuk mengelola emosi dan membangun kembali rasa percaya diri.

Andini berharap energi positif yang diterima anak-anak dari kegiatan tersebut dapat menjadi bekal dan motivasi untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari. Ia juga berharap kegiatan sederhana seperti ini dapat menjadi rutinitas yang membantu anak-anak pulih secara bertahap dan kembali belajar dengan lebih nyaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....