Gubernur NTT Dorong Sektor Pendidikan Tetap Berjalan di Masa Tanggap Darurat
- 04 Sep 2026 13:53 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende — Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena meminta dukungan langsung Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto untuk mempercepat pemulihan sektor pendidikan di wilayah terdampak gempa Flores. Salah satu kebutuhan paling mendesak adalah penyediaan tenda sebagai ruang belajar darurat, sehingga anak-anak dapat segera kembali ke sekolah sekaligus mendapatkan ruang untuk berinteraksi dan perlahan memulihkan trauma.
Permintaan itu disampaikan dalam rapat penanganan gempa dan percepatan pemulihan wilayah terdampak yang dipimpin Presiden Prabowo di Posko Penanganan Gempa Bumi Yonif TP 834/Wakanga Mere, Kabupaten Nagekeo, Rabu 26 Agustus 2026. “Kami butuh tenda agar pendidikan bisa segera dimulai. Karena kalau pendidikan sudah mulai berjalan, ini juga bisa mengurangi traumatis anak-anak,” ujar Gubernur Melki.
Menurut Gubernur, pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena bencana. Sekolah harus kembali menjadi ruang yang aman bagi anak-anak untuk belajar, bermain, berinteraksi, sekaligus bangkit dari ketakutan akibat gempa.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, gempa M7,7 pada 15 Agustus 2026 berdampak terhadap 1.378 satuan pendidikan di tujuh kabupaten. Sementara jumlah siswa terdampak tercatat 177.678 siswa serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan turut terdampak.
Sebanyak 5.521 ruang kelas mengalami kerusakan, sementara 502 sekolah mengalami kerusakan berat. Komitmen menggerakkan kembali sektor pendidikan kemudian ditegaskan Melki dalam rapat koordinasi bersama jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT di Kupang, Rabu 2 September 2026.
Ia meminta sekolah yang belum dapat menggunakan bangunannya segera mendapatkan ruang belajar alternatif, baik melalui tenda, ruang darurat, ruang kelas yang masih aman maupun tempat terbuka. “Pendidikan bergerak akan menimbulkan suasana bahwa pemulihan itu terasa. Harus mulai dibuka agar kondisi pemulihan semakin nyata,” katanya.
Pemerintah juga mendorong penggunaan material lokal seperti bambu dan terpal untuk membangun ruang belajar sementara, sembari menunggu proses rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah. Pemulihan pendidikan, kata Gubernur Melki, tidak boleh hanya berbicara tentang pembangunan kembali gedung sekolah.
Dampak psikologis yang dialami siswa, guru dan tenaga kependidikan juga harus menjadi perhatian. Karena itu, setiap sekolah didorong memiliki tim pendampingan psikososial yang dapat memanfaatkan tenaga dan sumber daya di lingkungan sekolah, termasuk melalui seni, budaya dan kearifan lokal.
“Trauma healing ini masih akan terjadi berbulan-bulan. Tiap sekolah perlu ada tim pendampingan. Harus ada kekuatan dari sekolah sendiri, jangan hanya berharap dari luar,” ujarnya. Gubernur juga meminta perguruan tinggi, terutama mahasiswa dan tenaga ahli teknik sipil serta arsitektur, dilibatkan dalam pendataan dan verifikasi kerusakan bangunan sekolah.
Selain ruang belajar darurat, Pemerintah Provinsi NTT mendorong pengaktifan kembali Jam Belajar Masyarakat sebagai alternatif bagi anak-anak yang belum dapat belajar secara normal di sekolah. Pemerintah pusat juga tengah menyiapkan pembangunan sekolah darurat dengan memanfaatkan material lokal.
Sementara itu untuk jangka menengah dan panjang, terdapat 882 ruang kelas yang membutuhkan revitalisasi. Bagi Gubernur, seluruh upaya tersebut harus dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan pemerintah, sekolah, keluarga, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, komunitas budaya, lembaga adat dan masyarakat.
“Yang kita pulihkan bukan hanya bangunan sekolah. Kita harus memulihkan anak-anak, guru dan seluruh kehidupan pendidikan. Sekolah harus kembali menjadi ruang yang aman agar anak-anak bisa belajar dan perlahan pulih dari trauma,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....