Trauma Healing Pulihkan Semangat Pengungsi Nangahale Pascagempa
- 26 Agt 2026 09:57 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Sikka – Gempa bumi tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga meninggalkan kecemasan dan trauma bagi warga yang masih bertahan di pengungsian. Kondisi itu mendorong Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT, Polda Bali, dan Bag SDM Polres Sikka memberikan pendampingan psikologis kepada pengungsi di Posko Nangahale, Kecamatan Talibura, Senin 24 Agustus 2026.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 10.00 WITA tersebut dipimpin Kasubbagsipol Biro SDM Polda NTT Kompol Prasetyo Dwi Laksono, S.Psi., bersama Kabag SDM Polres Sikka AKP Susanto, S.E., serta personel psikologi dari Polda NTT dan Polda Bali. Pendampingan dirancang untuk membantu warga mengelola tekanan psikologis sekaligus menciptakan suasana yang lebih aman dan nyaman selama berada di pengungsian.
Sebanyak 25 orang dewasa mengikuti Terapi Useft untuk membantu mereka menghadapi beban psikologis pascabencana. Sementara itu, 35 anak-anak mendapatkan trauma healing melalui permainan, bernyanyi, dan hiburan yang disesuaikan dengan usia mereka.
Bagi anak-anak, aktivitas tersebut menjadi ruang untuk sejenak keluar dari suasana pengungsian yang penuh keterbatasan dan ketidakpastian. Tawa dan permainan digunakan sebagai bagian dari pendekatan untuk mengurangi ketegangan serta membantu anak kembali berinteraksi secara positif setelah mengalami guncangan gempa.
Pendampingan juga menyasar kebutuhan emosional warga dewasa yang menghadapi tekanan akibat perubahan kehidupan secara mendadak. Tim memberikan ruang bagi warga untuk berinteraksi dan mengelola perasaan sehingga pengalaman bencana tidak semakin membebani kondisi psikologis mereka.
Selain pendampingan psikologis, tim memberikan bantuan konsumsi kepada warga berupa enam dos makanan ringan, lima dos Pop Mie, lima dos mi instan, satu dos kopi sachet, dan dua dos air mineral. Bantuan tersebut menjadi bentuk perhatian langsung kepada pengungsi yang masih membutuhkan dukungan selama masa pemulihan.
Respons positif terlihat dari warga yang mengikuti kegiatan dan menyampaikan apresiasi kepada tim pendamping. Kehadiran personel di tengah pengungsian dinilai memberi ruang bagi masyarakat untuk memperoleh dukungan, tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menghadapi tekanan setelah bencana.
Kegiatan yang berakhir sekitar pukul 12.00 WITA itu berlangsung aman dan lancar. Tim menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak berhenti pada penanganan kerusakan fisik, karena keberanian dan rasa aman warga juga perlu dipulihkan secara bertahap.
Bagi anak-anak dan orang dewasa di Nangahale, trauma healing menjadi bagian dari proses untuk kembali menjalani kehidupan setelah gempa. Pendampingan psikologis diharapkan membantu warga menghadapi pengalaman bencana tanpa membiarkan ketakutan berkembang menjadi beban yang berkepanjangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....