Kapolda NTT: Anak Korban Gempa Tak Boleh Kehilangan Harapan

  • 24 Agt 2026 12:35 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Nagekeo - Kapolda NTT Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko menegaskan anak-anak korban gempa harus tetap memiliki harapan di tengah situasi pengungsian. Pesan tersebut disampaikan saat meninjau warga terdampak gempa di Lapangan Berdikari Danga, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Jumat 21 Agustus 2026.

Kehadiran Kapolda NTT tidak hanya untuk memastikan penanganan darurat dan bantuan bagi masyarakat terdampak berjalan secara optimal. Perhatian juga diarahkan kepada anak-anak yang menghadapi pengalaman traumatis setelah gempa mengguncang wilayah Flores.

Di lokasi pengungsian, Tim Psikologi Polri memberikan trauma healing dengan mengajak anak-anak bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama. Kegiatan tersebut dirancang untuk menghadirkan kembali suasana ceria sekaligus memberi ruang kepada anak mengekspresikan perasaannya.

Senyum dan tawa anak-anak perlahan terdengar di antara tenda pengungsian yang masih dipenuhi warga terdampak bencana. Bagi mereka, gempa tidak hanya menghadirkan guncangan, tetapi juga kepanikan, kehilangan kenyamanan rumah, dan ketidakpastian.

Kapolda NTT mengatakan pemulihan psikologis anak menjadi bagian penting dalam penanganan bencana yang tidak boleh diabaikan. Menurutnya, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya memperbaiki bangunan dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

“Anak-anak korban bencana tidak boleh kehilangan harapan,” kata Irjen Pol. Rudi Darmoko saat berada di lokasi pengungsian. Ia menilai keberanian dan rasa aman anak perlu dikembalikan agar mereka dapat menjalani kehidupan setelah bencana.

Kapolda juga mengingatkan bahwa dampak bencana tidak seluruhnya terlihat melalui kerusakan fisik maupun kondisi pengungsian masyarakat. Rasa takut, kecemasan, dan trauma dapat tersimpan dalam ingatan penyintas, terutama anak-anak yang mengalami langsung guncangan gempa.

Karena itu, pendampingan psikologis dilakukan dengan pendekatan sederhana yang dekat dengan kehidupan dan dunia anak-anak selama berada di pengungsian. Melalui permainan dan interaksi, anak-anak diarahkan untuk kembali merasa nyaman serta memiliki ruang aman untuk berekspresi.

Kapolda NTT turut berinteraksi dengan anak-anak dan memberikan perhatian selama kegiatan trauma healing berlangsung di lokasi pengungsian. Kehadiran tersebut menjadi dukungan psikologis sekaligus menunjukkan perhatian terhadap kebutuhan penyintas selama masa pemulihan.

Polri terus terlibat dalam penanganan dampak gempa melalui distribusi bantuan, pelayanan kesehatan, pengamanan pengungsian, dan pencarian pertolongan. Pendampingan psikologis juga dilakukan untuk membantu masyarakat, terutama anak-anak, menghadapi dampak emosional akibat bencana.

Bagi warga yang masih bertahan di tenda pengungsian, kehadiran pejabat secara langsung memberi penguatan menghadapi masa sulit tersebut. Masyarakat mendapat pesan bahwa penanganan bencana dilakukan tidak hanya melalui bantuan material, tetapi juga kepedulian.

Dari Lapangan Berdikari Danga, pesan Kapolda NTT menjadi pengingat bahwa pemulihan harus menyentuh kebutuhan fisik dan psikologis. Senyum anak-anak menjadi salah satu tanda bahwa harapan mulai tumbuh kembali setelah mereka melewati pengalaman bencana.

Bencana dapat merusak rumah dan fasilitas umum, tetapi harapan anak-anak untuk kembali bermain dan bermimpi harus terus dijaga. Ketika anak-anak kembali tersenyum, proses pemulihan kehidupan masyarakat terdampak gempa perlahan menemukan jalannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....