425 Pengungsi Bertahan di Aeramo, Butuh Pendampingan Trauma
- 24 Agt 2026 10:27 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Sebanyak 425 warga masih bertahan di Posko Aeramo, Kabupaten Nagekeo, hingga 22 Agustus 2026 setelah gempa bumi mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus lalu. Para penyintas tersebut berasal dari 107 kepala keluarga dan sebagian masih membutuhkan pendampingan untuk mengatasi rasa takut serta trauma.
Pater Paroki Yesus Kerahiman Ilahi Aeramo, Pater Charles Lelu U.S.A. Talu OFM, mengatakan kebutuhan penyintas tidak hanya berkaitan dengan logistik, tetapi juga pendampingan untuk membantu mereka memulihkan kondisi psikologis pascabencana.
Hal tersebut disampaikan Pater Charles saat diwawancarai RRI Ende di Aeramo, Minggu, 23 Agustus 2026.
Menurut Pater Charles, saat gempa terjadi sekitar pukul 05.58 WITA pada 15 Agustus 2026, dirinya sedang mengikuti kegiatan di Rumah Bina Kerahiman. Setelah merasakan guncangan, ia bersama warga segera keluar menuju halaman dan menghubungi sejumlah pihak untuk memastikan kondisi gereja serta masyarakat.
Ia kemudian mendapat informasi bahwa gereja mengalami kerusakan dan sejumlah warga mulai mengungsi ke daerah perbukitan. Kekhawatiran masyarakat semakin meningkat menyusul informasi mengenai potensi tsunami saat itu.
Setelah kembali ke Aeramo pada sore hari, Pater Charles bersama sejumlah pihak segera mendirikan posko pengungsian sekaligus lokasi distribusi bantuan. Warga dari Nangadhero yang masih berada di pinggir jalan karena belum mengetahui lokasi pengungsian kemudian diarahkan menuju Posko Aeramo.
Menurutnya, warga yang datang ke posko tidak hanya berasal dari satu kelompok masyarakat. Warga Muslim yang membutuhkan tempat aman juga diarahkan untuk bergabung di lokasi pengungsian.
Data Posko Aeramo per 22 Agustus 2026 mencatat sebanyak 425 pengungsi, terdiri atas 224 laki-laki dan 201 perempuan. Berdasarkan kelompok usia dan kondisi khusus, terdapat empat bayi, 24 balita, 87 anak-anak, 35 remaja, 244 dewasa, 31 lansia, dua ibu hamil, serta dua penyandang disabilitas.
Pater Charles mengatakan sebagian warga masih memilih bertahan di pengungsian karena rumah mereka mengalami kerusakan dan masih diliputi rasa takut terhadap kemungkinan gempa susulan.
Sementara warga yang kondisi rumahnya masih memungkinkan secara perlahan mulai kembali ke tempat tinggal masing-masing. Meski demikian, rasa khawatir masih dirasakan sebagian penyintas karena aktivitas gempa susulan dapat terjadi sewaktu-waktu.
Ia menyebut tidak terdapat korban jiwa di wilayah Aeramo akibat gempa. Namun, sejumlah rumah dan fasilitas umum mengalami kerusakan sehingga sebagian warga belum dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
Menurut Pater Charles, kondisi psikologis penyintas menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian dalam proses pemulihan. Pendampingan terutama dibutuhkan oleh anak-anak dan ibu-ibu yang masih mengalami rasa takut setelah gempa.
Ia berharap aktivitas gempa susulan segera berakhir sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas secara normal. Sementara warga yang kehilangan tempat tinggal diharapkan segera memperoleh bantuan hunian, disertai pendampingan psikologis bagi penyintas yang masih mengalami trauma.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....