Uskup Maumere Minta Umat Waspada Pascagempa Flores

  • 20 Agt 2026 14:08 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Sikka – Uskup Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu meminta umat Keuskupan Maumere tetap tenang dan waspada menghadapi situasi pascagempa yang mengguncang Pulau Flores. Keselamatan jiwa harus menjadi prioritas dengan menghindari gereja, kapela, pastoran, biara, maupun bangunan lain yang mengalami kerusakan dan belum dinyatakan aman.

Seruan tersebut disampaikan menyusul laporan keretakan dan kerusakan pada sejumlah bangunan milik Gereja di wilayah Keuskupan Maumere. Para imam, biarawan, biarawati, dan umat diminta mengikuti arahan pemerintah serta petugas kebencanaan dalam menentukan kelayakan bangunan untuk digunakan.

Karena kondisi sejumlah gereja dan kapela belum sepenuhnya dipastikan aman, perayaan Ekaristi mulai Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga dan beberapa hari berikutnya diminta dipindahkan ke lokasi alternatif. Halaman gereja atau kapela, aula, maupun tempat lain yang layak dapat digunakan dengan tetap mengutamakan keselamatan dan kenyamanan umat.

Uskup Edwaldus menegaskan perubahan lokasi ibadah dan kerusakan bangunan bukan alasan menghentikan pelayanan Gereja maupun memutus kebersamaan umat. Ia mengingatkan gempa yang meretakkan rumah, gereja, pastoran, biara dan bangunan lainnya jangan sampai turut meretakkan persaudaraan.

“Gempa mungkin telah meretakkan tembok rumah, gereja, pastoran, biara, dan bangunan lainnya. Namun, jangan sampai bencana ini meretakkan persaudaraan kita,” demikian inti pesan Uskup Edwaldus.

Umat juga diajak saling menguatkan dan memberikan perhatian kepada kelompok yang paling membutuhkan pertolongan. Anak-anak, lanjut usia, orang sakit, serta warga yang mengalami ketakutan dan trauma diminta menjadi perhatian bersama, sementara informasi yang belum terverifikasi tidak boleh disebarkan karena dapat memperbesar kepanikan.

Dalam penanganan dampak gempa, Keuskupan Maumere mendorong seluruh unsur Gereja bergerak secara terkoordinasi melalui Caritas Keuskupan Maumere dengan melibatkan pemerintah, lembaga kemanusiaan, paroki, komunitas, dan pihak terkait lainnya. Bantuan diminta disalurkan secara tepat sasaran dengan mendahulukan warga yang paling membutuhkan.

Para pastor bersama Dewan Pastoral Paroki, biarawan dan biarawati serta penanggung jawab komunitas diminta melakukan pendataan awal terhadap kerusakan dan kebutuhan umat. Data tersebut mencakup kondisi gereja, kapela, pastoran, biara, rumah umat hingga kebutuhan mendesak seperti tempat tinggal sementara, makanan, air, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya.

Uskup Edwaldus mengajak setiap keluarga dan Komunitas Basis Gerejani tetap bersatu dalam doa serta memohon perlindungan bagi seluruh masyarakat. Menurutnya, situasi darurat membutuhkan ketenangan sekaligus solidaritas agar umat dapat melewati masa sulit tanpa kehilangan kepedulian terhadap sesama.

Pesan tersebut menegaskan bahwa penanganan pascagempa tidak hanya menyangkut pemulihan bangunan yang rusak, tetapi juga menjaga persaudaraan dan pelayanan kepada umat. Ketika bangunan retak dan ketakutan menyebar, kepedulian yang diwujudkan dalam tindakan nyata menjadi kekuatan untuk bangkit bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....