Rumput Laut Lembata Dilirik Pasar Ekspor, Hilirisasi Jadi Kunci

  • 11 Agt 2026 14:30 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Lembata - Rumput laut Kabupaten Lembata memiliki peluang pasar yang semakin terbuka seiring adanya permintaan bahan baku untuk kebutuhan ekspor. Salah satu pembeli bahkan menyampaikan kebutuhan rumput laut dari Lembata mencapai sekitar 100 ton setiap bulan untuk dikirim ke China.

Kondisi tersebut menjadi peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan produksi sekaligus memperluas sumber pendapatan. Namun, peluang pasar tersebut membutuhkan dukungan produksi yang konsisten, kualitas terjaga, serta sistem distribusi yang lebih efisien.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lembata, Hadi Umar, S.Pd., MT, di Florata Pagi, 9 Agustus 2026 mengatakan, permintaan dalam jumlah besar menunjukkan bahwa rumput laut Lembata memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai komoditas bernilai ekonomi. Menurutnya, pasar yang tersedia harus diimbangi kemampuan pembudidaya dalam memenuhi kebutuhan secara berkelanjutan.

Kontinuitas produksi menjadi salah satu kunci agar peluang pasar tersebut tidak hanya berlangsung dalam jangka pendek. Ia menjelaskan, pembudidaya rumput laut di Lembata berasal dari berbagai latar belakang masyarakat.

Selain nelayan kecil di wilayah pesisir, terdapat masyarakat dari kawasan pegunungan yang memanfaatkan musim kemarau untuk beralih sementara dari pertanian lahan kering. Budidaya rumput laut kemudian menjadi alternatif sumber pendapatan ketika aktivitas pertanian tidak berada pada masa produktif.

Kondisi tersebut membuat komoditas rumput laut memiliki manfaat ekonomi yang tidak hanya dirasakan masyarakat pesisir. Ia mengungkapkan, proses budidaya rumput laut relatif singkat karena dapat dipanen sekitar 30 hingga 40 hari setelah ditanam.

Setelah dipanen, hasil tersebut dikeringkan sebelum dikemas dan dipasarkan kepada pembeli. Pola tersebut memungkinkan masyarakat memperoleh penghasilan dalam waktu relatif cepat sehingga apabila dikelola secara teratur, budidaya rumput laut dinilai dapat menjadi salah satu pilihan usaha yang mendukung ekonomi rumah tangga masyarakat.

Meski memiliki peluang pasar besar, Hadi menyebut pengembangan rumput laut Lembata masih menghadapi persoalan logistik dan transportasi. Kondisi kepulauan membuat biaya pengiriman hasil produksi menjadi relatif tinggi dibandingkan daerah yang memiliki akses transportasi lebih mudah.

Persoalan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pelaku usaha belum maksimal menanamkan modal untuk pengembangan industri pengolahan. Ia menilai dukungan terhadap sistem transportasi dan distribusi menjadi bagian penting dalam memperkuat daya saing rumput laut Lembata, ucapnya.

Menurutnya, sebagian besar rumput laut yang diproduksi masyarakat saat ini masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Setelah melalui proses panen, penjemuran, dan pengemasan, rumput laut kemudian dikirim ke sejumlah daerah seperti Makassar dan Surabaya untuk diproses lebih lanjut.

Kondisi tersebut menyebabkan nilai tambah dari proses pengolahan belum sepenuhnya dinikmati masyarakat Lembata. Padahal, pengolahan di daerah berpotensi menciptakan kegiatan ekonomi baru sekaligus membuka lapangan usaha bagi masyarakat.

Ia menambahkan, hilirisasi menjadi langkah penting untuk meningkatkan manfaat ekonomi dari komoditas rumput laut. Pengolahan tidak hanya dapat menghasilkan produk dengan nilai jual lebih tinggi, tetapi juga mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap penjualan bahan mentah. Pengembangan industri pengolahan membutuhkan dukungan investasi, teknologi, sumber daya manusia, serta kepastian bahan baku.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....