Efisiensi Anggaran Paksa Kontraktor Sikka Beralih Jadi Petani Hortikultura

  • 04 Agt 2026 15:02 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Sikka – Efisiensi anggaran yang berdampak pada berkurangnya proyek pemerintah mendorong seorang kontraktor di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, beralih profesi menjadi petani hortikultura. Keputusan itu diambil sebagai langkah mempertahankan penghasilan keluarga di tengah lesunya sektor konstruksi.

Beni Pongo, warga Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Alok Timur, telah menjalani profesi barunya selama sekitar lima bulan. Sebelumnya, ia setiap hari menangani proyek pemerintah sebagai kontraktor, namun kini memilih mengelola lahan pertanian.

Lahan berukuran 20 x 30 meter yang sebelumnya merupakan tanah kering milik tetangganya disulap menjadi kebun hortikultura produktif. Di atas lahan tersebut, Beni menanam berbagai komoditas seperti sawi, kangkung, bayam, cabai, dan pepaya.

Dengan menerapkan pola tanam tumpang sari, ia dapat memanen sayuran secara bertahap sehingga memiliki hasil yang bisa dijual hampir setiap hari. Sayuran hasil panen dipasarkan kepada warga sekitar maupun dijual di pasar setempat.

Dari usaha tersebut, Beni mengaku mampu memperoleh pendapatan harian berkisar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Dalam satu bulan, hasil penjualan sayuran dapat mencapai sekitar Rp3 juta dan menjadi sumber utama nafkah keluarganya.

Beni mengatakan keputusan meninggalkan dunia kontraktor bukan tanpa alasan, melainkan karena minimnya pekerjaan setelah anggaran pemerintah mengalami efisiensi. "Sudah sekitar lima bulan saya memanfaatkan lahan karena situasi ekonomi tidak bagus, akhirnya saya ambil keputusan usaha di bidang pertanian, sebelumnya saya kontraktor juga," ujarnya, Sabtu 1 Agustus 2026.

Ia menjelaskan hampir tidak ada lagi pekerjaan proyek yang dapat dikerjakan karena keterbatasan anggaran di daerah. "Karena itu saya banting setir untuk menyelamatkan rumah tangga saya, hidup saya," katanya.

Menurut Beni, mengolah lahan kering pada musim kemarau memang membutuhkan ketelatenan karena tanaman harus dirawat, dibersihkan dari gulma, dan disiram setiap hari. Namun, ia menilai hasil penjualan sayuran mampu menjaga kestabilan ekonomi keluarga sekaligus membuktikan bahwa sektor pertanian dapat menjadi alternatif sumber penghasilan di tengah terbatasnya lapangan kerja.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....