Ruang Literasi Desa Selamatkan Sejarah Kampung

  • 31 Jul 2026 20:38 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Flores Timur – Gerakan literasi yang dibangun komunitas Rumpi Nuhalolon di Desa Nuhalolon, Kabupaten Flores Timur, berkembang menjadi ruang pelestarian sejarah dan budaya lokal. Perpustakaan desa tidak lagi hanya menyediakan bacaan, tetapi menjadi tempat masyarakat mendokumentasikan pengetahuan yang selama ini hanya diwariskan secara lisan.

Hal tersebut disampaikan Pengurus Rumpi Nuhalolon, Afryantho Keyn, saat berbincang dalam segmen CLBK Pro 2 RRI Ende, Selasa, 14 Juli 2026. Ia mengatakan komunitasnya sengaja memperluas fungsi perpustakaan karena membaca dinilai belum cukup tanpa ruang dialog yang mempertemukan generasi muda dengan para tetua kampung.

Salah satu program yang dijalankan ialah diskusi sosial budaya yang mengangkat tema-tema dekat dengan kehidupan masyarakat. Pengurus terlebih dahulu melakukan riset sederhana melalui wawancara dengan para orang tua, kemudian menghadirkan mereka dalam forum diskusi agar pengalaman masa lalu dapat dipertukarkan dengan generasi muda.

Topik yang dibahas antara lain sejarah perubahan sumber air di kampung, tradisi bertani, hingga kebiasaan berpantang menjelang panen sebagai bentuk penghormatan terhadap proses bercocok tanam. Melalui diskusi tersebut, masyarakat memperoleh gambaran mengenai perubahan lingkungan sekaligus memahami nilai-nilai budaya yang masih relevan dipertahankan.

Afryantho menjelaskan pendekatan tersebut juga memperkuat hubungan antarwarga karena setiap orang memiliki kesempatan yang sama menyampaikan pengalaman dan pandangannya. Budaya berdiskusi yang sebelumnya jarang dilakukan di desa perlahan mulai tumbuh, seiring meningkatnya aktivitas literasi yang melibatkan anak-anak, orang tua, hingga tokoh masyarakat.

Selain membuka perpustakaan setiap hari, komunitas juga menyelenggarakan lapak buku di ruang publik, pemutaran film edukatif, pertunjukan teater berbasis cerita yang dibaca anak-anak, serta festival literasi tahunan. Berbagai kegiatan itu membuat perpustakaan menjadi ruang interaksi sosial, bukan sekadar tempat meminjam buku.

Ke depan, Rumpi Nuhalolon tengah menyiapkan majalah komunitas sebagai media untuk menghimpun tulisan hasil membaca, riset, dan diskusi masyarakat. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga memori kolektif desa sekaligus memperkuat budaya literasi berbasis kearifan lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....