Pengawas Kemenag Ende Ajak Pendidik RA Adaptif terhadap Perkembangan Zaman

  • 28 Jul 2026 12:41 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Perkembangan teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan anak-anak mendorong pendidik Raudhatul Athfal (RA) di Kabupaten Ende untuk menyesuaikan pola pembelajaran dengan kebutuhan generasi masa kini. Pendekatan pembelajaran yang adaptif dinilai penting agar proses pendidikan tetap relevan tanpa mengabaikan penanaman nilai agama dan karakter.

Hal tersebut disampaikan Pengawas Kementerian Agama Kabupaten Ende, Usman Nagi, dalam kegiatan Bedah Capaian Perkembangan (CP) Pembelajaran Berbasis Cinta Jenjang RA Kabupaten Ende Tahun Pelajaran 2026/2027 di Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Ende, Senin, 27 Juli 2026.

Menurut Usman, anak-anak saat ini tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat sehingga pendekatan pendidikan tidak dapat disamakan sepenuhnya dengan generasi sebelumnya. Karena itu, pendidik perlu menerapkan pembelajaran yang lebih fleksibel sesuai karakter dan kebutuhan peserta didik.

Ia menjelaskan, kedekatan anak dengan telepon genggam dan berbagai sumber informasi digital menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pendidik untuk membangun komunikasi yang lebih efektif tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan.

"Anak-anak sekarang sudah sangat dekat dengan HP. Karena itu, kita perlu membangun komunikasi yang baik dengan anak-anak serta menanamkan nilai-nilai keagamaan melalui Al-Qur’an," ujarnya.

Usman mengatakan pembelajaran tidak cukup hanya mengulang materi yang tertuang dalam perangkat pendidikan, tetapi harus mampu menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam pengalaman nyata yang dirasakan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, konsep pembelajaran berbasis cinta tidak sekadar menjadi teori, melainkan diwujudkan melalui sikap, keteladanan, perhatian, dan kepedulian pendidik dalam mendampingi peserta didik.

Ia menambahkan, perangkat pembelajaran, termasuk Capaian Pembelajaran (CP), telah tersedia sebagai pedoman bagi pendidik. Namun, implementasinya perlu terus dianalisis dan disesuaikan dengan perkembangan zaman serta kondisi peserta didik agar tetap relevan.

"CP-nya sudah ada, analisis CP juga sudah ada. Yang perlu kita lakukan adalah menganalisis kembali dan menyesuaikannya dengan kondisi di lapangan," katanya.

Usman juga menekankan pentingnya kolaborasi antarpendidik dalam memperkuat implementasi pembelajaran berbasis cinta. Menurutnya, diskusi dalam kelompok-kelompok kecil dapat menjadi ruang berbagi pengalaman, refleksi, serta mencari solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi di lapangan.

Ia berharap kegiatan Bedah Capaian Perkembangan tidak hanya meningkatkan pemahaman peserta terhadap materi, tetapi juga mendorong perubahan dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran sehingga pendidikan berbasis cinta mampu membentuk generasi RA yang berkarakter, religius, dan siap menghadapi perkembangan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....