Gubernur Melki Dorong Budaya Belajar dan Kewirausahaan Siswa NTT
- 06 Jul 2026 14:08 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga dan masyarakat. Pesan itu disampaikannya saat melakukan kunjungan kerja di SMK Sadar Wisata Ruteng, Kabupaten Manggarai, Sabtu, 4 Juli 2026.
Kegiatan juga dirangkaikan dengan sosialisasi Peraturan Gubernur NTT Nomor 24 Tahun 2026 tentang Gerakan Jam Belajar di Lingkungan Masyarakat, peluncuran Dapur Flobamorata, peresmian NTT Mart melalui program One School One Product (OSOP), serta peluncuran buku karya para pengawas, kepala sekolah, dan guru SMA/SMK/SLB Kabupaten Manggarai berjudul Kelas Ruang Navigasi Peradaban.
Dalam sambutannya, Gubernur Melki mengatakan keempat program tersebut saling melengkapi dalam membangun kualitas sumber daya manusia di NTT. Gerakan Jam Belajar diharapkan membentuk budaya membaca dan belajar di rumah setiap pukul 18.00–19.30 WITA, sementara OSOP dan NTT Mart menjadi ruang bagi sekolah untuk mengembangkan kreativitas, keterampilan, serta jiwa kewirausahaan peserta didik.
Menurutnya, rendahnya capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) NTT tidak bisa hanya dibebankan kepada guru. "Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah. Anak-anak lebih banyak berada di rumah dan di tengah masyarakat. Karena itu kita semua harus menjadi bagian dari proses mendidik mereka," katanya.
Gubernur juga menekankan bahwa sekolah harus mampu melahirkan generasi yang kreatif dan produktif dengan memanfaatkan potensi lokal. Melalui program OSOP yang terintegrasi dengan One Village One Product (OVOP), One Community One Product (OCOP), dan dipasarkan melalui NTT Mart, pemerintah ingin mendorong lahirnya produk-produk unggulan dari lingkungan pendidikan.
"Kita ingin sekolah menjadi tempat lahirnya inovasi. Anak-anak belajar menghasilkan karya, mencintai produk daerahnya, sekaligus memahami bahwa kreativitas memiliki nilai ekonomi," ujarnya.
Suasana kegiatan semakin semarak saat sejumlah siswa dan guru diberi kesempatan mempresentasikan hasil karya sekolah mereka. Mulai dari pot bunga berbahan daur ulang, kerajinan tangan, aneka makanan lokal, buku karya siswa, hingga kain tenun Songke yang pernah habis terjual pada ajang Gebyar SMK di Kupang.
Momen yang paling mencuri perhatian datang dari Ica, siswa kelas VI SDK Ruteng VI, yang menceritakan karya gitar sederhana buatan siswa. Saat ditanya harapannya kepada pemerintah, Ica menjawab singkat, "Yang penting jadi suporter," yang langsung disambut tepuk tangan para peserta.
Bagi Gubernur Melki, jawaban polos tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari tumbuhnya rasa percaya diri, kreativitas, dan dukungan terhadap karya anak-anak. Ia menegaskan, NTT harus mengurangi ketergantungan terhadap produk dari luar daerah dengan membangun budaya mencipta sejak di bangku sekolah.
Karena itu, Gerakan Jam Belajar dan OSOP diharapkan menjadi fondasi lahirnya generasi NTT yang cerdas, berkarakter, inovatif, serta mampu menggerakkan perekonomian daerah melalui karya dan potensi lokal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....