Unika Ruteng Hadirkan ALICE 2026, Dorong Hilirisasi Riset Berkelanjutan
- 30 Jun 2026 16:19 WIB
- Ende
RRI CO.ID, Manggarai - Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng kembali memperluas jejaring akademik internasional melalui penyelenggaraan The 1st International Conference on Agriculture, Livestock, and Civil Engineering (ALICE) 2026 yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting, Minggu 29 Juni 2026.
Konferensi internasional perdana ini mengusung tema “Towards Sustainability: Eco-Friendly Agriculture and Livestock Practices, and Engineering for Sustainable Infrastructure” sebagai bentuk komitmen bersama dalam menghadirkan solusi ilmiah bagi pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan tersebut mempertemukan dosen, peneliti, mahasiswa, praktisi, dan akademisi dari Indonesia maupun luar negeri untuk bertukar gagasan, memperkuat kolaborasi, serta menghasilkan inovasi yang mampu menjawab berbagai tantangan global di bidang pertanian, peternakan, dan teknik sipil.
Konferensi internasional yang digagas Fakultas Pertanian, Fakultas Peternakan, dan Fakultas Teknik Unika Santu Paulus Ruteng ini menghadirkan keynote speakers dari Universiti Teknologi MARA (Malaysia), Benguet State University (Filipina), dan Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng.
Selain peserta dari lingkungan Unika Ruteng, konferensi ini juga diikuti akademisi dari Universitas Brawijaya, Universitas Timor (Unimor), Benguet State University, serta sejumlah perguruan tinggi lainnya dari dalam dan luar negeri.
Ketua Panitia 1st ALICE 2026, Ir. Patrisius Valdoni Sandi, S.T., M.T., mengatakan bahwa konferensi ini tidak hanya menjadi ruang presentasi hasil penelitian, tetapi juga wadah membangun sinergi lintas disiplin ilmu.
“Konferensi ini kami rancang untuk mempertemukan pertanian, peternakan, dan teknik sipil dalam satu ruang kolaborasi. Ketiga bidang ini saling melengkapi untuk melahirkan solusi nyata bagi pembangunan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, ALICE 2026 menjadi langkah strategis untuk memperkuat budaya akademik sekaligus membuka ruang kerja sama internasional yang lebih luas bagi dosen dan peneliti di Unika Ruteng.
Patrisius menjelaskan bahwa tema ALICE 2026 lahir dari kebutuhan dunia saat ini untuk menghadirkan inovasi yang mampu menjawab persoalan perubahan iklim, ketahanan pangan, serta pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan.
Dari perspektif teknik sipil, konferensi ini membuka ruang diskusi mengenai pengembangan material konstruksi ramah lingkungan, konsep green infrastructure, hingga metode pembangunan yang lebih berkelanjutan dan adaptif terhadap tantangan lingkungan.
Sementara itu, sektor pertanian dan peternakan memperoleh peluang untuk berkolaborasi dengan bidang teknik dalam pengembangan sistem irigasi cerdas, pemanfaatan limbah peternakan menjadi bioenergi, serta pembangunan rantai pasok pangan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
“Manfaat terbesar konferensi ini adalah lahirnya titik temu antardisiplin ilmu. Pertanian, peternakan, dan teknik sipil tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling mendukung untuk menghasilkan solusi yang lebih komprehensif,” katanya.
Ia menambahkan, konferensi internasional seperti ALICE 2026 juga menjadi momentum penting untuk meningkatkan kualitas publikasi ilmiah sekaligus memperluas jejaring riset dan kerja sama internasional bagi para akademisi dan peneliti.
Patrisius menegaskan bahwa keberhasilan konferensi tidak hanya diukur dari jumlah peserta maupun makalah yang dipresentasikan, tetapi terutama dari kemampuan peserta menerjemahkan gagasan dan hasil penelitian menjadi aksi nyata yang memberi dampak bagi masyarakat.
Menurutnya, hasil-hasil penelitian yang dipaparkan dalam konferensi perlu diarahkan pada hilirisasi riset sehingga dapat diterapkan secara konkret dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan pembangunan berkelanjutan.
Ia berharap ALICE 2026 menjadi awal lahirnya berbagai kolaborasi penelitian, inovasi teknologi tepat guna, serta publikasi ilmiah yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan di tingkat lokal, nasional, maupun global.
“Melalui konferensi ini, kami berharap lahir kerja sama yang berkelanjutan dan inovasi yang tidak berhenti di ruang diskusi akademik, tetapi benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....