Ikhlas Cinta dan Kehidupan Mengalir dalam Puisi yang Menyentuh Hati
- 29 Jun 2026 12:06 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende– Penulis sekaligus guru Bahasa Indonesia di Sekolah Internasional Tzu Chi, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Yosephus Dominikus Fernandez, S.Pd., M.A. atau yang akrab disapa Yosi Fz, kembali menghadirkan buku puisi keduanya setelah melalui proses kreatif selama kurang lebih empat tahun. Kepada RRI Ende, Minggu 28 Juni 2026, ia mengungkapkan buku tersebut lahir sebagai bentuk konsistensi dalam berkarya sekaligus ajakan kepada generasi muda untuk terus menulis.
Yosi menjelaskan, sebagian besar puisi dalam buku keduanya sebenarnya telah ditulis sejak empat hingga lima tahun lalu. Beberapa di antaranya bahkan sempat direncanakan masuk dalam buku pertama, namun ditunda karena masih memerlukan proses penyuntingan sehingga baru diterbitkan tahun ini.
Ia mengatakan, proses penyelesaian naskah hingga siap terbit memakan waktu sekitar dua hingga tiga bulan. Tahapan tersebut meliputi penyuntingan, proses penerbitan, hingga pengurusan ISBN dari Perpustakaan Nasional yang memerlukan waktu hampir satu bulan, lebih lama dibandingkan penerbitan buku pertamanya.
Menurut Yosi, tantangan terbesar selama menyelesaikan buku bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga menjaga konsistensi dan suasana hati untuk tetap menulis di tengah berbagai kesibukan. Ia baru benar-benar fokus menyelesaikan proses editing sejak Desember tahun lalu hingga akhirnya buku tersebut resmi dirilis bertepatan dengan hari ulang tahunnya pada 24 Juni 2026.
Buku puisi tersebut menyasar kalangan generasi muda sebagai pembaca utama. Meski demikian, isi buku tetap dapat dinikmati oleh semua kalangan karena mengangkat tema-tema universal, seperti cinta kepada orang tua, kasih kepada sesama, rasa syukur, ucapan terima kasih, hingga pengalaman kehilangan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Salah satu puisi yang menjadi perhatian dalam buku itu berjudul "Ikhlas yang Paling Tak Mungkin". Melalui karya tersebut, Yosi menggambarkan perjalanan seseorang dalam menerima kenyataan yang sulit, hingga akhirnya mampu belajar mengikhlaskan dan melepaskan apa yang tidak lagi dapat dipertahankan.
Ia menilai tema-tema tersebut penting diangkat karena sangat relevan dengan kehidupan banyak orang. Menurutnya, sastra dapat menjadi ruang refleksi bagi pembaca untuk memahami perasaan, menerima kenyataan, dan menemukan makna di balik setiap pengalaman hidup.
Ia menambahkan Respons pembaca terhadap buku keduanya pun, kata Yosi, sangat positif. Selain mendapat testimoni yang dimuat dalam prolog dan epilog buku, sejumlah pembaca juga menyampaikan secara langsung bahwa beberapa puisinya terasa sangat dekat dengan pengalaman hidup mereka. Hal itu menjadi motivasi tersendiri baginya untuk terus menghasilkan karya,katanya.
Ia berharap buku puisi keduanya mampu menjangkau lebih banyak pembaca dan menginspirasi generasi muda agar tidak takut berkarya. Baginya, karya adalah warisan yang akan tetap hidup dan memberi makna bagi banyak orang, bahkan ketika sang pencipta telah tiada.
"Jangan pernah berhenti menulis atau berkarya. Dengan karya, kita akan selalu hidup, karena tulisan yang kita tinggalkan akan tetap hidup di hati orang-orang yang membacanya," ucap Yosi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....