AI Dinilai Ancam Pola Belajar Generasi Muda

  • 26 Jun 2026 14:15 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran bahasa semakin luas, namun penggunaannya tanpa kontrol dikhawatirkan mengurangi kemampuan berpikir kritis pelajar. Hal itu disampaikan Dosen Bahasa Inggris STAIM Ende, Yuska Nadira, saat wawancara dalam segmen OBRAS (Obrolan SPADA) Pro 2 RRI Ende, Senin 8 Juni 2026.

Ia, mengatakan teknologi AI telah mempermudah siswa memperoleh materi pembelajaran, memperbaiki tata bahasa, hingga melatih kemampuan berbicara. Berbagai platform digital bahkan mampu memberikan umpan balik secara instan terhadap hasil belajar pengguna.

Namun di balik kemudahan tersebut, muncul risiko ketergantungan yang dapat menghambat proses belajar. Menurut Yuska, sebagian pelajar cenderung langsung menyalin jawaban dari AI tanpa memahami proses maupun sumber informasi yang digunakan.

Fenomena tersebut dikenal sebagai cognitive offloading, yaitu kondisi ketika seseorang menyerahkan proses berpikirnya kepada teknologi. Akibatnya, kemampuan analisis, pemecahan masalah, dan daya kritis siswa berpotensi menurun.

Yuska Nadira menilai AI seharusnya digunakan sebagai pendamping belajar, bukan sebagai pengganti proses pembelajaran. Pengguna perlu tetap membaca, memahami, dan mengevaluasi informasi yang diterima agar manfaat teknologi dapat dirasakan secara optimal.

Di sisi lain, pemanfaatan AI juga membuka peluang pemerataan akses pembelajaran bahasa. Pelajar kini dapat memperoleh materi, latihan, hingga simulasi percakapan tanpa terbatas ruang dan waktu.

Karena itu, literasi digital menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda. Kemampuan menggunakan teknologi secara bijak dinilai akan menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....