Rutan Larantuka Ubah Lahan Kosong Menjadi Kebun Produktif
- 18 Jun 2026 08:20 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Flores Timur - Hidup di balik tembok rumah tahanan tidak memadamkan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Semangat itulah yang terlihat dari warga binaan Rutan Kelas IIB Larantuka melalui kegiatan bercocok tanam produktif setiap hari.
Berawal dari pengetahuan yang sangat terbatas, warga binaan memanfaatkan lahan sekitar rumah tahanan untuk menanam berbagai komoditas pertanian. Mereka belajar secara otodidak dengan menanam, menyiram, merawat, lalu memanen tanaman yang berhasil tumbuh dengan baik.
Hasil panen kemudian dijual secara langsung kepada masyarakat dengan cara berkeliling dari rumah ke rumah sekitar. Mereka juga menawarkan hasil pertanian tersebut ke sejumlah kantor pemerintahan dan lingkungan kerja yang berada dekat.
Aktivitas itu menarik perhatian Yohana Benga Kian, penyuluh pertanian Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Flores Timur setempat. Perempuan yang akrab disapa Jeni tersebut kemudian mencari tahu asal hasil panen yang dipasarkan warga binaan.
Sebagai penyuluh yang membina wilayah tersebut, Jeni kemudian berkoordinasi dengan Kepala Rutan Kelas IIB Larantuka, Jaka Putra. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan untuk memperkuat pembinaan pertanian bagi warga binaan melalui pendampingan berkelanjutan.
Dengan dukungan pihak rutan, dibentuk kelompok tani beranggotakan sekitar 30 warga binaan bernama Bui Nagi. Kelompok tersebut menjadi wadah pembelajaran sekaligus pengembangan keterampilan pertanian selama menjalani masa pembinaan di rutan.
"ejak Januari 2026, Jeni secara rutin mendampingi kelompok tani tersebut hampir setiap minggu dalam kegiatan pembelajaran. Pendampingan mencakup administrasi kelompok, manajemen organisasi, dinamika kelompok, hingga penerapan teknik budidaya pertanian lapangan.
Menurut Jeni, banyak warga binaan memiliki minat dan potensi besar pada sektor pertanian yang menjanjikan. Sebagian besar bahkan berasal dari desa yang memiliki lahan pertanian namun minim pendampingan teknis memadai.
"Dalam proses pembinaan, warga binaan diperkenalkan dengan penggunaan pupuk organik dan pupuk anorganik secara tepat. Mereka juga belajar menentukan waktu tanam, pemupukan, serta teknik budidaya sesuai standar pertanian yang dianjurkan." ujarnya, Rabu 17 Juni 2026.
Inovasi ramah lingkungan turut diterapkan melalui pemanfaatan kulit pisang sebagai wadah pembibitan tanaman cabai produktif. Langkah tersebut mengurangi penggunaan plastik sekaligus memperkenalkan praktik pertanian yang lebih berkelanjutan bagi peserta.
Pendampingan itu membuahkan hasil melalui panen berbagai komoditas seperti jagung manis, kangkung, bayam, dan timun. Selain itu, kelompok tani juga berhasil membudidayakan garum, serai merah, serta okra dengan hasil menggembirakan.
Khusus budidaya cabai, seluruh tahapan dikerjakan sesuai prosedur sejak pengolahan lahan pada Maret 2026 lalu. Proses tersebut meliputi penggunaan traktor, pembuatan bedengan, pemberian pupuk dasar, hingga penyemaian bibit secara terukur.
Untuk menjaga kelembapan tanah, warga binaan memanfaatkan daun pisang kering sebagai mulsa alami tanaman. Metode tersebut membantu mengurangi penguapan sekaligus melindungi akar tanaman dari suhu panas wilayah pesisir.
Jeni mengapresiasi dukungan Kepala Rutan yang terus memberikan motivasi kepada warga binaan selama proses pembelajaran berlangsung. Ia berharap keterampilan pertanian yang diperoleh dapat menjadi bekal produktif ketika mereka kembali ke masyarakat.
Melalui kelompok tani tersebut, warga binaan diharapkan mampu melanjutkan aktivitas pertanian setelah menyelesaikan masa pembinaan nantinya. Dengan bekal pengetahuan yang dimiliki, mereka berpeluang membangun harapan baru dan kehidupan lebih mandiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....