Iman, Solidaritas, dan Pemberdayaan Jadi Kekuatan Komunitas Tuna Daksa Kristiani
- 03 Jun 2026 19:36 WIB
- Ende
Poin Utama
- Iman, solidaritas, dan pemberdayaan menjadi tiga pilar utama dalam membangun kehidupan yang lebih bermartabat bagi penyandang disabilitas, khususnya tuna daksa kristiani.
- Serafina Bete menegaskan bahwa iman memberikan kekuatan bagi penyandang tuna daksa untuk tetap optimis menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
- Selain iman, solidaritas dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun komunitas yang inklusif.
RRI.CO.ID,Ende – Iman, solidaritas, dan pemberdayaan menjadi tiga pilar utama dalam membangun kehidupan yang lebih bermartabat bagi penyandang disabilitas, khususnya tuna daksa kristiani. Hal tersebut mengemuka dalam program Komunitas Bicara yang menghadirkan Ketua PERSANI NTT, Serafina Bete, sebagai narasumber, Selasa 2 Juni 2026.
Dalam dialog tersebut, Serafina Bete menegaskan bahwa iman memberikan kekuatan bagi penyandang tuna daksa untuk tetap optimis menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Menurutnya, keyakinan kepada Tuhan menjadi sumber harapan yang mendorong setiap individu untuk terus berkembang dan berkontribusi bagi masyarakat.
"Iman mengajarkan kita untuk menerima diri dengan penuh syukur sekaligus berjuang mengembangkan potensi yang dimiliki. Keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berkarya dan melayani," ujarnya. Selain iman, solidaritas dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun komunitas yang inklusif.
Serafina mengatakan dukungan sesama anggota komunitas mampu menghadirkan rasa percaya diri dan semangat kebersamaan dalam menghadapi berbagai persoalan sosial. Ia menjelaskan bahwa komunitas tuna daksa kristiani tidak hanya menjadi ruang persekutuan rohani, tetapi juga wadah saling menguatkan dan berbagi pengalaman hidup.
Melalui solidaritas, anggota komunitas dapat merasakan bahwa mereka tidak berjalan sendiri dalam menghadapi tantangan. Dalam kesempatan itu, Serafina juga menyoroti pentingnya pemberdayaan sebagai langkah nyata meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas.
Menurutnya, akses terhadap pendidikan, pelatihan keterampilan, dan kesempatan kerja harus terus diperluas agar penyandang tuna daksa dapat hidup mandiri dan produktif. "Pemberdayaan harus menjadi gerakan bersama. Ketika penyandang disabilitas diberi kesempatan yang setara, mereka mampu menunjukkan kemampuan dan prestasi yang membanggakan," katanya.
Program Komunitas Bicara turut menegaskan perlunya kolaborasi antara pemerintah, gereja, organisasi sosial, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang ramah disabilitas. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat partisipasi penyandang tuna daksa dalam berbagai bidang kehidupan.
Melalui penguatan nilai iman, solidaritas, dan pemberdayaan, komunitas tuna daksa kristiani di Nusa Tenggara Timur diharapkan semakin berdaya, mandiri, dan mampu menjadi agen perubahan bagi terwujudnya masyarakat yang inklusif dan berkeadilan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....