Sempat Tiga Kali Gagal, Louisa Tahir Akhirnya Raih Tiga Medali Olimpiade Nasional

  • 02 Jun 2026 10:15 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai – Tiga kali gagal tidak membuat Louisa Katrina A. Tahir menyerah. Siswi kelas X-L SMAS St. Fransiskus Xaverius Ruteng, Kabupaten Manggarai, itu justru menjadikan kegagalan sebagai motivasi untuk terus berjuang.

Ketekunan dan semangatnya yang pantang menyerah akhirnya berbuah manis ketika ia berhasil mengharumkan nama sekolah dan Kabupaten Manggarai dengan memborong tiga medali sekaligus dalam ajang Olimpiade Global Youth Competition Indonesia tingkat nasional.

Dalam kompetisi tersebut, Louisa berhasil meraih medali emas pada bidang Matematika, medali perak untuk Bahasa Indonesia, dan medali perunggu pada mata pelajaran Bahasa Inggris. Atas prestasi tersebut, ia berhak membawa pulang piagam penghargaan, sertifikat, serta tiga trofi kemenangan.

Kepada RRI, Louisa mengaku pencapaian itu merupakan buah dari proses panjang yang penuh tantangan. Sebelum bersekolah di SMAS St. Fransiskus Xaverius Ruteng sekitar lima bulan lalu, ia tercatat sebagai salah satu siswa berprestasi yang pernah masuk peringkat 10 besar saat masih menempuh pendidikan di SMAK St. Ignatius Loyola Labuan Bajo.

Meski demikian, perjalanan menuju podium juara tidak selalu berjalan mulus. Ia mengaku telah tiga kali mengikuti ajang olimpiade yang sama, namun selalu berakhir sebagai peserta tanpa membawa pulang medali.

"Tiga kali saya ikut lomba ini, Kak, tetapi belum pernah menang. Baru kali ini saya bisa meraih juara," ungkap Louisa.

Kompetisi tingkat nasional tersebut dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom. Meski pusat kegiatan berlangsung di Jakarta, Louisa terpaksa mengikuti lomba secara virtual karena pada waktu yang bersamaan ia sedang mengikuti kompetisi debat Bahasa Indonesia di Iteng, Kecamatan Satar Mese.

Menariknya, di tengah kesibukan mengikuti dua kompetisi sekaligus, Louisa juga berhasil mengantarkan tim debat sekolahnya meraih juara pertama. Dari enam anggota tim, tiga siswa termasuk dirinya terpilih untuk mewakili sekolah pada jenjang kompetisi berikutnya di Unika St. Paulus Ruteng dan dipersiapkan untuk mengikuti lomba di Kupang.

Prestasi Louisa semakin istimewa karena medali emas justru diraih dari mata pelajaran yang selama ini paling ia takuti. Menurutnya, Matematika menjadi mata pelajaran yang paling menantang selama masa persiapan yang berlangsung lebih dari tiga bulan. Namun di luar dugaan, mata pelajaran itulah yang akhirnya mengantarkannya menjadi juara nasional.

Keterlibatan Louisa dalam ajang tersebut berawal dari kebiasaannya mencari informasi lomba melalui media sosial Instagram. Keaktifannya di kelas kemudian mendapat perhatian para guru yang mendorong dan membimbingnya untuk mengikuti proses pendaftaran hingga persiapan kompetisi.

"Saya berterimakasih kepada guru pembimbing saya yang selalu setia menemani proses belajar saya," katanya.

Louisa menegaskan bahwa seluruh pencapaian tersebut ia persembahkan kepada kedua orang tua, para guru, dan teman-temannya yang selalu memberikan dukungan selama proses belajar. Baginya, kerja keras, ketekunan, dan keberanian untuk terus mencoba merupakan kunci utama dalam meraih kesuksesan.

Louisa menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak takut menghadapi kegagalan. Mengutip inspirasi dari ilmuwan peraih Nobel, Marie Curie, ia mengajak anak-anak muda untuk berani mencoba hal-hal baru dan memanfaatkan teknologi secara positif sebagai sarana belajar serta mengembangkan potensi diri.

Menurutnya, kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan. "Kalau saya tidak memulai, saya tidak akan tahu bagaimana hasilnya," ujarnya.

Pengalaman tiga kali gagal sebelum akhirnya meraih tiga medali nasional menjadi bukti bahwa ketekunan dan konsistensi pada akhirnya akan membuahkan hasil yang membanggakan. "Pada intinya semangat kerja keras adalah kunci keberhasilan," tutur Louisa.

Sementara itu, ayah Louisa, Thomas Tahir, mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas capaian yang diraih putrinya. Menurutnya, setiap orang tua tentu berharap anak-anaknya mampu menunjukkan prestasi terbaik, baik dalam bidang akademik maupun pengembangan diri.

Thomas juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Seminari St. Paulus Labuan Bajo, pihak SMAS St. Fransiskus Xaverius Ruteng, khususnya kepala sekolah dan para guru, yang telah memberikan pendampingan serta ruang bagi Louisa untuk mengembangkan potensinya. Ucapan terima kasih turut ia sampaikan kepada teman-teman Louisa yang selama ini menjadi bagian dari lingkungan belajar yang positif dan saling mendukung.

Ia mengaku bangga melihat kreativitas, semangat belajar, dan kemandirian yang ditunjukkan putrinya dalam mengikuti berbagai kompetisi. Bahkan, menurut Thomas, prestasi yang diraih Louisa saat ini telah melampaui ekspektasi keluarga.

"Kami juga bangga dengan kreativitas yang dia lakukan sendiri selama ini, tentu juga ini diluar ekspektasi kami sebagai orang tua," kata Thomas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....