Petani di Lingko Lanar Manggarai Rasakan Efisiensi Panen Modern Mesin Combine

  • 27 Mei 2026 09:10 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai – Para petani di Lingko Lanar, Desa Pong Leko, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, kini mulai merasakan dampak positif dari efisiensi teknologi panen modern. Kehadiran mesin pemanen (combine harvester) membawa keceriaan bagi petani setempat yang selama ini harus bergantung pada metode manual yang memakan waktu dan biaya besar.

Pantauan RRI di lokasi, Senin, 25 Mei 2026, proses panen menggunakan mesin ini berlangsung sangat cepat dan efisien. Alat modern tersebut bekerja secara presisi memotong sekaligus merontokkan padi tanpa meninggalkan butiran gabah yang tercecer di lahan, sebuah persoalan klasik yang selama ini kerap merugikan petani saat menggunakan metode tradisional.

Pengawas Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) sekaligus Koordinator Permintaan Petani di Lingko Lanar, Mario, mengungkapkan alat ini awalnya hanya ditujukan untuk uji coba. Namun, antusiasme masyarakat yang sangat luar biasa membuat dirinya kewalahan melayani pesanan sewa alat.

Sementara, untuk mengantisipasi tingginya permintaan yang terus meningkat, Dinas Pertanian berencana menambah satu unit mesin lagi guna mengakomodasi permintaan para petani yang semakin bertambah. "jujur saya juga kewalahan handle permintaan petani. Kami akan usahakan bawa lagi satu alat menambahkan alat panen di sini," kata Mario.

Terkait rincian biaya, Mario menjelaskan tarif sewa mesin dihitung senilai Rp350 saja per meter perseginya, atau berkisar 3,5 juta rupiah untuk luas lahan satu hektar.

Mario memastikan, petani kini menerima hasil panen bersih di dalam karung yang siap dijemur, tanpa perlu memikirkan biaya bahan bakar karena seluruhnya ditanggung oleh Dinas Pertanian. "Pokoknya, petani hanya terima dalam karung, terima bersih, tinggal jemur saja," ungkapnya.

Manfaat dari mesin combine tersebut juga diakui oleh Mama Elin, salah satu pemilik lahan di Lingko Lanar yang padinya dipanen menggunakan alat modern ini. Menurutnya, penggunaan mesin jauh lebih hemat anggaran dan tenaga dibandingkan metode manual yang sarat dengan biaya harian buruh serta konsumsi. "Tidak ada biaya harian orang, biaya makan minum, hanya tinggal sewa alatnya saja," ujarnya.

Dari sisi efisiensi waktu, ia menyebut bahwa jika panen manual menghabiskan waktu seharian penuh, alat combine ini justru mampu menuntaskannya hanya dalam hitungan jam. Keuntungan tersebut kian lengkap dengan melonjaknya volume hasil panen, dari yang biasanya hanya 11 hingga 12 karung kini mencapai 14 hingga 15 karung.

Peningkatan hasil produksi juga dinikmati pemilik lahan lainnya, Leon Damar, yang mencatat kenaikan hasil panen dari rata-rata 14 karung menjadi 16 karung pada musim ini. "Dengan hadirnya alat ini perani merasa terbantu, lebih praktis, hemat biaya hemat waktu juga," tutur Leon.

Capaian tersebut sekaligus mematahkan anggapan keliru bahwa penggunaan mesin justru menurunkan kuantitas hasil produksi. Leon mengungkapkan, jika menggunakan metode manual dengan jumlah pekerja mencapai belasan pekerja pria dan wanita, dirinya harus merogoh kocek hingga 1,3 juta rupiah, belum termasuk biaya rontok dan transportasi.

"Uang harian di sini Rp100 ribu per orang, makan plus rokok. Biasanya 6 laki-laki dan 8 perempuan. Kalau perempuan di sini Rp30 ribu, belum termasuk biaya perontokan dan biaya mobil.

Anggaran tersebut bahkan berpotensi membengkak jika cuaca buruk memaksa proses panen molor hingga dua hari. Sebaliknya, dengan alat combine, ia hanya menghabiskan biaya sekitar Rp800 ribu dengan waktu pengerjaan maksimal 30 menit.

"Kalau cuaca bagus selesai dalam satu hari, tetapi kalau hujan bisa sampai dua hari sehingga biaya jadi tambah bengkak," katanya.

Senada, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Longgo, Wilhelmus Empo, menegaskan bahwa kehadiran alat modern ini menjadi solusi konkret atas tingginya biaya produksi pertanian. Menurut perhitungan Wilhelmus, sistem panen tradisional menggunakan tenaga manusia membutuhkan biaya yang cukup besar hingga mencapai 2,7 juta rupiah.

Nilai tersebut terpangkas drastis menjadi maksimal 1 juta rupiah saja sejak beralih ke mesin combine. Keuntungan ganda juga terlihat dari produktivitas gabah yang melesat dari 12 karung menjadi 17 karung, lantaran hilangnya risiko padi jatuh saat dipotong dan diangkut secara manual.

Tidak heran, skema efisiensi ini membuat para petani setempat kini rela mengantre demi mendapatkan jadwal giliran panen. "Makanya semuaa petani menunggu jadwal panen menggunakan combine ini," ucap Wilhelmus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....