Aktivis Tananua: Kesadaran Lingkungan Masyarakat Flores Masih Terbelah
- 22 Mei 2026 09:52 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Kesadaran masyarakat Flores terhadap persoalan lingkungan dinilai masih terbelah. Sebagian warga masih menganggap kerusakan alam sebagai hal biasa, sementara kelompok lainnya mulai melihat krisis ekologi sebagai ancaman serius terhadap kehidupan dan mata pencaharian mereka.
Hal itu disampaikan aktivis lingkungan dari Yayasan Tananua, Hironimus Pala, dalam dialog di Pro 1 RRI pada 25 April 2026. Menurutnya, perubahan cara pandang masyarakat terhadap lingkungan terus berkembang seiring dampak kerusakan alam yang semakin dirasakan secara langsung.
Kelompok masyarakat yang belum memahami pentingnya menjaga lingkungan masih menunjukkan berbagai perilaku yang berpotensi merusak ekosistem. Praktik tersebut antara lain membuang sampah plastik sembarangan, membakar padang, menggunakan herbisida secara berlebihan, hingga penebangan bakau dan pohon di sekitar mata air.
Selain itu, masih ditemukan praktik pemboman ikan, penggunaan racun untuk menangkap hewan sungai, hingga perburuan satwa liar menggunakan jerat. Perilaku tersebut dinilai mempercepat kerusakan lingkungan darat maupun laut di Flores.
Di sisi lain, semakin banyak masyarakat yang mulai memahami persoalan lingkungan sebagai krisis ekologis yang berdampak langsung terhadap ekonomi keluarga. Kesadaran itu muncul karena warga mulai merasakan penurunan hasil pertanian, berkurangnya sumber air, hingga menurunnya hasil tangkapan nelayan.
“Masyarakat mulai melihat kerusakan lingkungan bukan lagi hal biasa, tetapi ancaman serius bagi kelangsungan hidup mereka,” ujar Hironimus Pala.
Kesadaran tersebut mendorong munculnya berbagai aksi pelestarian lingkungan di tingkat masyarakat. Warga mulai melakukan penanaman pohon di kawasan tangkapan air serta menghidupkan kembali pangan lokal seperti sorgum sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim.
Selain aksi pelestarian, masyarakat juga mulai melakukan penolakan terhadap proyek pembangunan yang dianggap berpotensi merusak lingkungan. Salah satunya terkait penolakan pembangunan geothermal di kawasan permukiman dan lahan pertanian warga.
Generasi muda di Flores juga mulai aktif menyuarakan isu keadilan lingkungan. Mereka menyoroti kerusakan ekologis dan mendorong perlindungan ruang hidup masyarakat adat serta sumber daya alam yang menjadi penopang kehidupan warga.
Menurut Yayasan Tananua, hubungan antara kondisi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Lingkungan hidup menjadi fondasi utama keberlangsungan hidup manusia karena menyediakan air bersih, pangan, dan sumber ekonomi masyarakat.
Dalam sektor ekonomi, banyak aktivitas masyarakat Flores bergantung langsung pada kelestarian alam, seperti pertanian, perikanan, dan pariwisata. Kerusakan lingkungan dinilai dapat menghancurkan sumber penghidupan dan memperbesar risiko kemiskinan.
Selain sebagai sumber kehidupan, ekosistem yang terjaga juga berfungsi melindungi masyarakat dari bencana. Hutan dan lahan basah, misalnya, berperan mencegah banjir, longsor, dan kekeringan sekaligus membantu mengurangi dampak pemanasan global.
Sebaliknya, kerusakan lingkungan dapat memicu krisis kesehatan, kerugian ekonomi, hingga tekanan sosial di masyarakat. Karena itu, Tananua menegaskan bahwa merawat bumi sejatinya merupakan investasi untuk menjaga kualitas hidup dan masa depan manusia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....