Kolaborasi Komunitas Perkuat Literasi Desa di Ngada

  • 21 Mei 2026 12:39 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Mengatasi keterbatasan koleksi buku dengan menerapkan sistem pertukaran bahan bacaan antarrumah baca secara rutin guna menjaga minat baca anak agar tidak jenuh.
  • Distribusi dan pengadaan buku anak disokong oleh jaringan relawan serta donatur internasional dan nasional yang membentang dari Hongkong, Jakarta, hingga Kupang.
  • Mendorong replikasi model kolaborasi simpul pustaka ini ke desa-desa lain sebagai bentuk investasi jangka panjang demi mencetak generasi yang kritis, mandiri, dan berdaya saing.

RRI.CO.ID, Ngada – Keberlangsungan Rumah Baca Isilanga selama lebih dari satu dekade menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas komunitas dalam membangun budaya literasi desa. Dukungan jaringan pegiat literasi, donatur, hingga pemerintah daerah membantu memperluas akses bacaan bagi anak-anak di wilayah terpencil Kabupaten Ngada.

Pegiat literasi Mertin Lucia mengatakan keterbatasan koleksi buku di desa disiasati melalui pertukaran bahan bacaan antarrumah baca secara rutin. Cara tersebut dilakukan agar anak-anak tetap memiliki pilihan bacaan baru dan tidak kehilangan minat membaca.

“Kami memiliki simpul pustaka yang sangat kuat untuk saling mendukung ketersediaan bahan bacaan,” ujar Mertin dalam program Komunitas Bicara Pro 1 Radio Republik Indonesia Ende, Senin, 16 Maret 2026.

Menurutnya, jaringan komunitas literasi dari Jakarta, Hongkong, hingga Kupang turut membantu pengadaan buku yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak desa. Kehadiran relawan dan donatur membuat rumah baca mampu bertahan meski berada di tengah keterbatasan fasilitas dan anggaran.

Pemerintah daerah melalui Dinas Perpustakaan juga mulai membuka akses pengajuan bantuan literasi ke tingkat nasional. Dukungan tersebut diperkuat melalui festival literasi budaya yang menghadirkan lomba cerita rakyat dan tarian tradisional untuk mendekatkan anak-anak dengan identitas budaya lokal.

Rumah Baca Isilanga tidak hanya fokus menyediakan buku, tetapi juga menjaga aspek sosial anak-anak penerima bantuan. Donasi berupa seragam dan sepatu dibagikan secara tertutup kepada keluarga yang membutuhkan untuk menghindari kecemburuan sosial di lingkungan desa.

Mertin berharap model kolaborasi tersebut dapat diterapkan di desa-desa lain yang masih minim fasilitas belajar. Ia menilai literasi desa bukan sekadar kegiatan membaca, melainkan investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang lebih kritis, mandiri, dan berdaya saing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....