PMI Sinergi Pemda Tekan Kasus Rabies Manggarai

  • 16 Mei 2026 08:33 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Respons Cepat Status KLB: PMI dan Pemkab Manggarai bersinergi melakukan penanganan masif setelah ditetapkannya status Kejadian Luar Biasa (KLB) rabies di Kabupaten Manggarai.
  • Dukungan Palang Merah Amerika: Program penanggulangan darurat ini didukung oleh Palang Merah Amerika melalui skema Quick Action Fund yang berfokus di Kecamatan Langke Rembong dan Wae Ri'i.
  • Enam Sektor Penanganan: Sinergi mencakup 6 langkah konkrit: promosi edukasi, pelatihan relawan, koordinasi lintas sektor, vaksinasi massal, pendataan hewan peliharaan, dan eliminasi terbatas.
  • Stok VAR Aman dan Gratis: Ketersediaan Vaksin Anti Rabies (VAR) untuk korban gigitan dipastikan aman di setiap puskesmas serta difasilitasi secara gratis oleh Dinas Kesehatan.
  • Imbauan Tertibkan Hewan Peliharaan: Masyarakat diminta sadar bahaya rabies dan bersedia mengandangkan atau mengikat hewan penular rabies (HPR) mereka demi keamanan bersama.

RRI.CO.ID, Manggarai - Palang Merah Indonesia (PMI) bersama Pemerintah Kabupaten Manggarai bergerak masif di lapangan pasca-ditetapkannya status Kejadian Luar Biasa (KLB) rabies di wilayah tersebut. Sinergi lintas sektoral ini diperkuat guna menekan eskalasi kasus penyakit mematikan yang telah menjadi endemis di Pulau Flores sejak puluhan tahun lalu.

Sekretaris PMI sekaligus Korlap Respon KLB Rabies Kabupaten Manggarai, Yoseph Palemus Cetak, SE, mengungkapkan bahwa penanganan krisis kesehatan ini turut mendapat dukungan penuh dari Palang Merah Amerika (AmCross) melalui Quick Action Fund (QAF) dalam program Elektra. Program darurat ini menyasar empat kabupaten di NTT, termasuk Belu, TTU, Manggarai, dan Manggarai Timur.

"Rabies merupakan ancaman serius karena belum ada obatnya. Sejak masuk ke Manggarai tahun 2000, kami terus berupaya melakukan pengendalian. Melalui dukungan Palang Merah Amerika, saat ini kami memfokuskan intervensi darurat pada dua kecamatan dengan populasi kasus gigitan tertinggi, yaitu Kecamatan Langke Rembong dan Kecamatan Wae Ri'i," ujar Yoseph saat wawancara bersama Pro 1 RRI, Sabtu, 16 Mei 2026.

Yoseph menjelaskan, PMI bersama Dinas Kesehatan serta Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai telah merancang enam program konkrit. Program tersebut meliputi promosi dan edukasi, pelatihan relawan tata laksana kasus gigitan, koordinasi lintas sektor, vaksinasi rabies, pendataan Hewan Penular Rabies (HPR), hingga eliminasi terbatas. Edukasi juga menyasar anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) yang dinilai sebagai kelompok paling rentan terhadap kasus gigitan.

Meski demikian, tim di lapangan masih menghadapi kendala, seperti adanya penolakan vaksinasi oleh pemilik HPR karena kekhawatiran anjing peliharaan mereka mati setelah divaksin. Menanggapi hal itu, relawan PMI terus melakukan pendekatan intensif guna memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat.

Terkait ketersediaan Vaksin Anti Rabies (VAR) untuk manusia, Yoseph memastikan stok di Kabupaten Manggarai dalam kondisi aman dan tercukupi hingga bulan Mei ini. Masyarakat yang menjadi korban gigitan diimbau untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat karena penanganan dan pemberian VAR telah disediakan secara gratis oleh pemerintah.

Yoseph mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat aktif dalam pencegahan dan tidak melulu membebankan masalah ini kepada pemerintah atau PMI. Ia juga meminta para pemilik hewan peliharaan untuk mengikat atau mengandangkan hewan mereka agar tidak berkeliaran dan memicu penularan virus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....