Pemimpin Humanis Dinilai Penting di Era Digital
- 13 Mei 2026 14:36 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Sikka – Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sikka, Ferdinand Evensius Edomeko, mengajak mahasiswa Program Studi Administrasi Kesehatan Universitas Muhammadiyah Maumere untuk menjadi pemimpin yang humanis di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan. Ajakan itu disampaikan dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) di kawasan wisata Bethesda Waiara, Sabtu 9 Mei 2026.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 120 mahasiswa Adminkes UNIMOF. Dalam sesi materi, Ferdinand menekankan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan memahami dan peduli terhadap sesama manusia.
“Untuk jadi pemimpin hebat di era digital seperti sekarang, hemat saya seorang calon pemimpin haruslah humanis. Punya hati untuk memperhatikan semua orang yang dia pimpin,” kata Ferdinand di hadapan peserta.
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi digital memang membantu manusia menyelesaikan pekerjaan secara lebih cepat dan praktis. Namun di balik kemudahan itu, teknologi juga dinilai dapat mendorong manusia menjadi lebih individualistis.
Menurut Ferdinand, kondisi tersebut membuat sikap humanis menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar bagi seorang pemimpin. Pemimpin, kata dia, harus hadir bukan sekadar mengendalikan sistem kerja, tetapi juga menjaga hubungan antarmanusia tetap hangat.
“Di zaman digital kini, nyaris semua orang bekerja dengan bantuan berbagai teknologi digital, yang di satu sisi mempermudah pekerjaan manusia, tapi di sisi lain membuat manusia asyik dengan diri sendiri dan makin kurang peduli dengan sesamanya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa manusia tetap memiliki hati dan perasaan yang tidak dapat digantikan teknologi. Karena itu, seorang pemimpin tidak boleh kehilangan empati saat menghadapi perubahan zaman yang serba digital.
“Padahal sesama kita masih manusia. Yang punya hati dan perasaan. Bukan seperti robot atau artificial intelligence. Karena itu pemimpin di era digital mesti seseorang yang bisa memerintah dengan hati,” katanya.
Selain menyoroti pentingnya empati, Ferdinand juga menilai kualitas klasik seorang pemimpin tetap relevan di era kecerdasan buatan. Kecerdasan, integritas, dan visi kepemimpinan disebutnya masih menjadi fondasi utama dalam memimpin organisasi maupun masyarakat.
Dalam penyampaian materi, Ferdinand menggunakan metode diskusi kasus agar mahasiswa lebih aktif menganalisis persoalan dan menemukan solusi secara mandiri. Sementara itu, pemateri berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan pola pikir peserta selama proses diskusi berlangsung.
Di akhir sesi, Ferdinand mengaitkan hasil diskusi dengan nilai-nilai budaya lokal masyarakat Flores. Ia mencontohkan ungkapan “doi-doi harang mawe-mawe” yang berarti berbicara dengan lembut dan tidak mudah marah.
Menurutnya, filosofi lokal tersebut relevan diterapkan dalam kepemimpinan modern yang sarat tekanan dan perubahan cepat. Kegiatan pemaparan materi itu dimoderatori dosen UNIMOF, Yoseph A.L. Keytimu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....