Pemkab Flotim Percepat Penanganan Stunting, Fokus 63 Desa Prioritas
- 13 Mei 2026 08:13 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Flores Timur – Pemerintah Kabupaten Flores Timur mengambil langkah agresif untuk menekan angka stunting yang saat ini masih berada di angka 18,1 persen. Dengan total 2.657 anak terdiagnosis stunting dari 14.662 balita yang diukur, pemerintah daerah kini menetapkan status siaga bagi desa-desa dengan prevalensi di atas 25 persen.
Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPP-GBM) Maret 2026, Desa Lamatutu di Kecamatan Tanjung Bunga mencatat angka tertinggi mencapai 52,9 persen. Disusul oleh Desa Dawataa (43,5 persen), Desa Woloklibang (40 persen), Desa Lamaleka (38,7 persen), dan Desa Wulublolong (37 persen).
Kepala Bapperida Flores Timur, Apolonia Corebima, mengungkapkan bahwa selain faktor ekonomi, infeksi berulang dan pola asuh keluarga menjadi pemicu dominan. Sebagai respons, Pemkab Flotim akan meluncurkan program "Makan Bergizi Gratis Stunting Flores Timur" pada 20 Mei 2026 mendatang yang menyasar 1.133 anak di 63 desa prioritas.
Bupati Flores Timur, Anton Doni Dihen, menegaskan bahwa penanganan stunting adalah prioritas utama dalam RPJMD 2025-2029. "Melalui Peraturan Bupati Nomor 46 Tahun 2022, kita sudah membagi tanggung jawab secara terpadu. Kita tidak hanya memberikan bantuan pangan, tapi juga melakukan intervensi medis melalui Susu Pangan Olahan Keperluan Medis Khusus (PKMK)," jelasnya, Selasa (12/5/2026).
Data menunjukkan efektivitas pemberian Susu PKMK sangat tinggi, di mana 89,15 persen anak penerima mengalami peningkatan tinggi badan yang signifikan. Selain itu, inovasi program KD2R (Keluar dari Dalam Rumah) terus digalakkan agar keluarga lebih aktif memanfaatkan layanan Posyandu guna deteksi dini dan pencegahan stunting.
Sebagai langkah konkret tambahan, Dinas Peternakan dan Perkebunan telah menyiapkan bantuan ternak ayam bagi keluarga balita stunting di Desa Lamatutu sebagai sumber protein mandiri. Pemerintah daerah juga membuka ruang kolaborasi lintas sektor melalui skema CSR dan pendampingan keluarga untuk memastikan intervensi gizi tepat sasaran dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....