Menjadi Gembala yang Peduli di Era Digital: Tantangan Empati di Balik Layar

  • 27 Apr 2026 08:53 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende– Fenomena ketergantungan pada layar gawai kini mulai mengikis empati sosial dan menciptakan jarak emosional di tengah masyarakat yang kian terhubung secara virtual. Melalui program Mutiara Pagi, masyarakat diingatkan bahwa peran sebagai "gembala" yang peduli sangat krusial untuk memulihkan hubungan antarmanusia yang mulai rapuh.

Pendeta Grace Sarlina Duka,S.Fil menegaskan bahwa kehadiran fisik tanpa perhatian penuh hanya akan menambah luka batin bagi orang-orang terdekat yang membutuhkan dukungan. Di era informasi ini, banyak orang lebih terampil memberikan komentar di media sosial daripada menjadi pendengar yang tulus bagi keluarga mereka sendiri.

Setiap individu sejatinya memikul tanggung jawab moral untuk menjaga dan merawat kesehatan mental sesama tanpa memandang status sosial atau jabatan. Tugas mulia ini tidak memerlukan posisi tinggi, melainkan ketulusan hati untuk hadir dan merangkul mereka yang sedang merasa tersisih atau terluka.

Keluarga harus dikembalikan fungsinya sebagai ruang paling aman dengan meminimalisir distraksi teknologi saat sedang menghabiskan waktu bersama anggota keluarga. Kesibukan memantau notifikasi sering kali membuat sepasang telinga kehilangan kemampuan untuk menangkap getaran kejujuran dari anak maupun pasangan di rumah.

Budaya peduli perlu segera dibangun guna menggeser kebiasaan bergosip yang kerap menjadi racun dalam hubungan sosial maupun komunitas beriman. Langkah sederhana seperti menyapa dengan hangat atau mengirim pesan dukungan dipercaya mampu menjadi obat penawar bagi jiwa yang sedang mengalami tekanan.

Transformasi perilaku ini menjadi sangat krusial mengingat dunia saat ini sudah cukup penuh dengan tekanan ekonomi serta ketidakpastian global yang melelahkan. Menghadirkan kasih melalui tindakan nyata adalah bentuk pengabdian tertinggi untuk mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah hiruk-pikuk perkembangan teknologi zaman sekarang.

Lembaga penyiaran seperti RRI berkomitmen untuk terus menyuarakan pesan pengharapan agar masyarakat tetap tangguh menghadapi berbagai pergumulan hidup yang dinamis. Sinergi antara pemerintah dan tokoh agama diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang inklusif serta penuh dengan rasa saling menghargai satu sama lain.

Sebagai penutup, seluruh lapisan masyarakat diajak menjadi pelopor dalam menciptakan ruang dialog yang jujur dan penuh dengan rasa empati. Fokus utama saat ini bukan lagi sekadar mengikuti tren digital, melainkan memastikan tidak ada satu pun orang di sekitar kita yang merasa berjuang sendirian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....