NTT Raih Peringkat Satu Nasional Minat Baca

  • 23 Apr 2026 11:16 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • NTT meraih peringkat pertama nasional dalam minat baca.
  • Capaian merupakan hasil kerja panjang dan kolaborasi berbagai pihak.
  • Program TBM dan gerakan literasi berperan besar dalam peningkatan.
  • Literasi numerasi masih menjadi tantangan yang perlu diperkuat.
  • Kolaborasi keluarga, sekolah, dan masyarakat penting untuk keberlanjutan.

RRI.CO.ID, Kupang - Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil meraih peringkat pertama nasional dalam kategori minat baca. Capaian ini menjadi kabar membanggakan sekaligus hasil dari kerja bersama berbagai pihak dalam membangun ekosistem literasi di daerah.

Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) NTT, Polikarpus Do, mengatakan bahwa keberhasilan tersebut bukanlah hasil instan, melainkan buah dari proses panjang gerakan literasi yang telah dibangun selama bertahun-tahun. “Ini bukan sesuatu yang tiba-tiba. Ini adalah perjalanan panjang dari kerja keras, kerja cerdas, dan kolaborasi semua pihak dalam memperkuat literasi di NTT,” ujarnya dalam wawancara bersama RRI, Kamis, 23 April 2026.

Ia menjelaskan, gerakan literasi di NTT telah berkembang sejak era pemberantasan buta aksara hingga kini bertransformasi menjadi penguatan budaya membaca dan menulis. Berbagai program seperti gerakan NTT membaca, kampung literasi, serta penguatan taman bacaan masyarakat (TBM) turut berkontribusi dalam meningkatkan minat baca masyarakat.

Menurut Polikarpus, investasi besar dari pemerintah pusat dan daerah, serta dukungan komunitas literasi menjadi faktor utama keberhasilan tersebut. Tren indeks literasi di NTT pun terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, dari sebelumnya peringkat delapan nasional pada 2022 hingga kini menjadi yang tertinggi.

Meski demikian, ia menegaskan masih ada sejumlah tantangan yang perlu dibenahi, terutama dalam aspek literasi numerasi dan kemampuan memahami bacaan secara mendalam. “Minat baca kita tinggi, tetapi kemampuan literasi lainnya seperti numerasi masih perlu diperkuat. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama,” katanya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam menjaga capaian tersebut. Peran ibu sebagai pusat literasi keluarga, sekolah sebagai ruang belajar yang menyenangkan, serta kehadiran taman bacaan di tingkat desa dinilai menjadi kunci penguatan budaya literasi.

Selain itu, pemanfaatan teknologi dan literasi digital juga menjadi peluang besar untuk memperluas akses dan meningkatkan budaya membaca di tengah masyarakat. Polikarpus berharap capaian ini menjadi momentum untuk terus berinovasi dalam membangun ekosistem literasi yang kuat, sekaligus menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....