Strategi Kreatif Taman Baca di Era Digital
- 22 Apr 2026 10:03 WIB
- Ende
Poin Utama
- Meski menghadapi tantangan seperti keterbatasan fasilitas dan rendahnya budaya baca, ia tetap optimistis bahwa gerakan literasi akan terus berkembang jika dikelola dengan inovatif dan kolaboratif.
- “Literasi bukan hanya soal membaca buku, tapi bagaimana membangun kebiasaan berpikir kritis dan kreatif. Itu yang ingin kami tanamkan,” jelasnya.
- “Kami juga aktif di media sosial, karena di sanalah anak-anak sekarang banyak menghabiskan waktu. Jadi literasi harus hadir di ruang mereka,” tambahnya.
RRI.CO.ID,Flotim – Di tengah derasnya arus digitalisasi, minat baca generasi muda kerap menjadi tantangan tersendiri. Namun, berbagai upaya terus dilakukan oleh pegiat literasi untuk menjembatani kebiasaan membaca dengan dunia digital yang semakin dekat dengan kehidupan anak muda.
Salah satunya datang dari Pegiat Literasi sekaligus Founder Teras Baca Ile Napo Dion Dani, yang mengembangkan berbagai strategi kreatif guna menarik minat baca generasi digital. Dalam wawancara bersama RRI,Selasa 21 April 2026, ia menegaskan bahwa taman baca tidak lagi bisa hanya mengandalkan metode konvensional.
“Anak-anak sekarang hidup di era digital. Jadi pendekatan yang kita lakukan juga harus relevan, tidak bisa lagi hanya menyediakan buku lalu berharap mereka datang membaca,” ujarnya.
Menurutnya, transformasi taman baca menjadi ruang yang interaktif dan menyenangkan menjadi kunci utama. Teras Baca Ile Napo, misalnya, menggabungkan kegiatan membaca dengan aktivitas kreatif seperti diskusi santai, pemutaran film edukatif, hingga pelatihan menulis dan bercerita.
Selain itu, pemanfaatan media sosial juga menjadi strategi penting dalam menjangkau generasi muda. Konten-konten literasi dikemas secara ringan dan menarik agar mudah diakses serta dibagikan.
“Kami juga aktif di media sosial, karena di sanalah anak-anak sekarang banyak menghabiskan waktu. Jadi literasi harus hadir di ruang mereka,” ujar Dion menambahkan.
Ia juga menekankan pentingnya menciptakan suasana taman baca yang inklusif dan ramah anak. Lingkungan yang nyaman, penuh warna, serta adanya interaksi yang hangat dinilai mampu membuat anak-anak lebih betah dan tertarik untuk kembali.
Tidak hanya itu, keterlibatan komunitas dan orang tua juga menjadi faktor pendukung keberhasilan gerakan literasi. Dukungan dari berbagai pihak dinilai mampu memperkuat keberlanjutan program taman baca di tengah berbagai keterbatasan.
Meski menghadapi tantangan seperti keterbatasan fasilitas dan rendahnya budaya baca, ia tetap optimistis bahwa gerakan literasi akan terus berkembang jika dikelola dengan inovatif dan kolaboratif. “Literasi bukan hanya soal membaca buku, tapi bagaimana membangun kebiasaan berpikir kritis dan kreatif. Itu yang ingin kami tanamkan,” katanya.
Melalui berbagai strategi tersebut, Teras Baca Ile Napo diharapkan dapat menjadi contoh bagaimana taman baca mampu beradaptasi di era digital sekaligus tetap menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda yang literat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....