Filosofi Tiga Batu Tungku, Fondasi Kokoh Peradaban dan Identitas Warga Nagekeo
- 21 Apr 2026 20:47 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Nagekeo, Filosofi Tiga Batu Tungku kini kembali disuarakan sebagai fondasi kokoh yang menopang peradaban sekaligus menjaga identitas diri masyarakat Nagekeo di tengah gempuran zaman. Pemerhati Budaya Nagekeo, Wilibrodus Lasa, mengungkapkan bahwa nilai ini merupakan kristalisasi dari pilar rumah (sao), tanah (tana), dan manusia (ata) yang saling menguatkan.
Dalam bincang budaya bersama RRI Ende, Wilibrodus menjelaskan bahwa sao atau rumah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang sakral tempat penyemaian karakter dan martabat anak cucu. Rumah tua menjadi pusat pendidikan moral di mana orang tua mentransfer nilai-nilai luhur kepada generasi muda melalui tuturan adat yang sangat mendalam.
Pilar kedua yakni tanah, dimaknai melampaui batas ulayat karena merepresentasikan kedaulatan serta keberlanjutan hidup yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur. Tanah di Nagekeo dipandang sebagai ibu yang harus dijaga kehormatannya melalui sistem kepemilikan yang tertata dalam struktur adat inetana amewatu.
Sementara itu, pilar manusia atau ata menekankan pada pentingnya kualitas individu yang bermartabat dan memiliki kepedulian sosial tinggi terhadap sesamanya. Manusia Nagekeo diharapkan menjadi pribadi yang santun, saling menghargai antargenerasi, serta memegang teguh prinsip hidup yang selaras dengan alam maupun pencipta.
Wilibrodus menyoroti bahwa sinkronisasi ketiga aspek ini melahirkan spirit To Jogo Waga Sama yang menjadi pengikat utama solidaritas masyarakat di jantung Pulau Flores. Sinergi antara rumah yang nyaman, tanah yang subur, dan manusia yang unggul diyakini mampu menciptakan ketahanan sosial yang sulit goyah.
Namun, tantangan besar muncul seiring masifnya digitalisasi yang cenderung membuat interaksi manusia menjadi lebih individualistis dan mengabaikan nilai kebersamaan di meja makan. Filosofi Tiga Batu Tungku hadir sebagai pengingat bagi kaum milenial dan Gen Z agar tidak tercerabut dari akar budaya yang telah membesarkan mereka.
Pemerintah daerah bersama tokoh adat kini terus berupaya mengintegrasikan filosofi ini ke dalam kurikulum pendidikan melalui penguatan penggunaan bahasa ibu di tingkat sekolah. Langkah ini diambil guna memastikan bahwa setiap tunas muda Nagekeo memahami filosofi tempat tinggal, tanah kelahiran, dan jati diri kemanusiaan mereka.
Harapannya, Tiga Batu Tungku tidak hanya berhenti sebagai simbol tradisi masa lalu, melainkan tetap menjadi kompas dalam pembangunan daerah yang modern namun tetap berkarakter. Dengan menjaga pilar ini, Nagekeo optimis dapat melangkah maju tanpa kehilangan marwah kultural yang menjadi kebanggaan bersama masyarakatnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....