Menelusuri Jejak Lahirnya Pancasila di Bawah Pohon Sukun Ende yang Bersejarah
- 17 Apr 2026 13:21 WIB
- Ende
Menelusuri Jejak Lahirnya Pancasila di Bawah Pohon Sukun Ende yang Bersejarah
RRI.CO.ID, ENDE – Menelusuri jejak lahirnya Pancasila di bawah pohon sukun Ende membawa memori kolektif bangsa pada masa pengasingan sang proklamator yang penuh perenungan spiritual. Di kota Endelah, Bung Karno menemukan mutiara terpendam yang kemudian menjadi fondasi ideologi bagi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kalianus Nusanipa selaku juru kunci Taman Renungan mengungkapkan fakta menarik bahwa Belanda sebenarnya merencanakan Bajawa sebagai lokasi pembuangan tokoh besar tersebut. Namun, ketertarikan spontan Soekarno pada atmosfir dermaga Ende mengubah garis takdir hingga akhirnya pemerintah kolonial menyetujui permintaan menetap sang fajar.
Pada awal kedatangannya di tahun 1934, Bung Karno sempat menghabiskan beberapa malam di gedung rumah sakit lama sebelum menemukan rumah pengasingan yang kini menjadi situs sejarah. Meski awalnya kurang dikenal oleh masyarakat setempat karena keterbatasan akses media, beliau perlahan membaur dan menjalin kedekatan emosional dengan rakyat kecil.
Dibatasi secara ketat dalam aktivitas politik, tokoh revolusioner ini justru mengalihkan energinya untuk berdiskusi intelektual dengan para misionaris Katolik di tanah Flores. Persahabatan lintas iman dan kelas sosial tersebut menjadi katalisator penting dalam membentuk pemikiran beliau mengenai persatuan dalam keberagaman yang sangat kompleks.
Di bawah rindangnya pohon sukun yang menghadap teluk, Soekarno kerap menghabiskan waktu pada dini hari untuk bermeditasi mencari arah bagi kemerdekaan bangsa. Pohon tersebut secara unik memiliki lima cabang utama yang secara visual merepresentasikan lima butir sila yang lahir dari kedalaman batin sang pemikir.
Filosofi kata sukun secara semantik dimaknai sebagai titik ketenangan dalam bahasa Arab, sementara dalam budaya Jawa melambangkan kualitas diri yang unggul. Makna mendalam ini terwujud dalam rumusan trilogi kehidupan yang menyatukan hubungan antara Tuhan, sesama manusia, serta alam semesta secara harmonis.
Kalianus yang telah mengabdi puluhan tahun menegaskan bahwa jejak sejarah ini harus terus dirawat sebagai sumber inspirasi abadi bagi generasi muda di masa depan. Melalui naskah teater dan dialog spiritual yang ditinggalkan, Ende akan selalu dikenang sebagai rahim ideologis tempat persatuan bangsa Indonesia pertama kali ditenun.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....