FGD di Labuan Bajo Bahas Ekonomi Sirkular untuk Pariwisata Berkelanjutan
- 16 Apr 2026 19:14 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Upaya mendorong penerapan ekonomi sirkular dalam sektor pariwisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) terus diperkuat melalui forum diskusi lintas pemangku kepentingan.
Mahasiswa MSc Sustainable Technology KTH Royal Institute of Technology Swedia, Aurelia Aranti Vinton, menggelar Focus Group Discussion (FGD) di DRUVE Caffe & Eatery, Kamis 16 April 2026, sebagai bagian dari penelitian tesis masternya tentang implementasi kebijakan ekonomi sirkular untuk pembangunan pariwisata berkelanjutan di Labuan Bajo.
FGD ini mempertemukan berbagai pihak, mulai dari pelaku usaha perhotelan, restoran, pengelola sampah, akademisi, komunitas lingkungan, hingga lembaga terkait, guna membangun sinergi bersama dalam pengelolaan sampah dan praktik ekonomi sirkular.
Aurelia menyampaikan, forum tersebut dirancang untuk menjembatani berbagai pihak yang selama ini bekerja secara terpisah dalam menangani persoalan sampah di Labuan Bajo.
“Harapannya melalui FGD ini, semua stakeholder bisa duduk bersama, berdiskusi, dan setelah ini ada perubahan nyata. Selama ini banyak pelaku usaha, baik di bidang persampahan maupun industri seperti hotel dan restoran, merasa berjalan sendiri-sendiri. Mereka ingin berubah, tetapi sering merasa membutuhkan usaha besar dan tidak tahu harus memulai dari mana,” ujarnya kepada RRU usai kegiatan.
Menurutnya, pendekatan kolaboratif menjadi kunci agar transformasi menuju sistem pariwisata berkelanjutan dapat berjalan efektif, khususnya di destinasi super prioritas seperti Labuan Bajo yang terus berkembang pesat.
Dalam penelitiannya, Aurelia menyoroti bagaimana kebijakan ekonomi sirkular diterapkan dalam konteks pariwisata serta sejauh mana keterlibatan aktor lokal dalam pelaksanaannya. Penelitian tersebut merupakan bagian dari tesis master di KTH Royal Institute of Technology, Swedia, dengan judul “Assessing Circular Economy Policy for Sustainable Tourism Development in Labuan Bajo.”
Lebih lanjut, dirinya menilai, secara umum kesadaran masyarakat Labuan Bajo terhadap pengelolaan sampah mulai menunjukkan perkembangan positif.
“Dari hasil diskusi dan wawancara dengan berbagai pihak, saya melihat sebenarnya banyak masyarakat dan pegiat lingkungan di Labuan Bajo yang sudah cukup baik dan aktif bergerak di bidang persampahan. Inisiatif yang dilakukan sejauh ini juga cukup positif,” katanya.
Kendati demikian, ia mengakui masih ada tantangan, terutama dari sebagian pihak yang belum memiliki kepedulian atau pemahaman memadai terkait pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan.
“Masih ada kelompok yang belum tahu atau belum mau tahu. Ini menjadi tantangan tersendiri, karena edukasi kepada kelompok ini perlu terus diperkuat agar mereka juga ikut berkontribusi,” ungkap Aurelia.
Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi pariwisata super prioritas nasional menghadapi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pariwisata dan kelestarian lingkungan. Melalui forum seperti FGD ini, diharapkan lahir langkah konkret dan kolaboratif yang dapat memperkuat sistem pengelolaan sampah sekaligus mendukung pembangunan pariwisata berkelanjutan di kawasan tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....