Buku Refleksi Setahun Ayo Bangun NTT Ungkap Tantangan Besar Pembangunan Kedepan

  • 10 Apr 2026 12:01 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende - Pemerintah Provinsi NTT meluncurkan buku refleksi setahun kepemimpinan Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wakil Gubernur Johni Asadoma bertajuk “Asa dan Rasa: Refleksi Setahun Ayo Bangun NTT!” di Aula El Tari, Kupang, Kamis, 9 April 2026. Buku yang diterbitkan PT Kanisius ini menjadi penanda satu tahun perjalanan kepemimpinan sekaligus ruang terbuka untuk mengevaluasi capaian dan tantangan pembangunan di Bumi Flobamorata.

Dalam prolognya, Johni Asadoma menegaskan bahwa buku ini merupakan upaya jujur untuk “membaca diri”, di mana “asa” mencerminkan harapan rakyat, sementara “rasa” menggambarkan pengalaman nyata masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Ia menekankan bahwa pembangunan tidak hanya soal angka, tetapi juga bagaimana kebijakan tersebut dirasakan publik, sehingga forum diskusi ini menjadi sarana koreksi dan pengayaan.

Editor buku, Rudi Rohi, menyebut proses penyusunan buku ini sebagai kerja kompleks yang merangkum beragam perspektif. Sementara itu, Ketua DPRD NTT, Emelia J. Nomleni, mengapresiasi langkah pemerintah mendokumentasikan kinerja dalam bentuk tulisan, namun juga menyoroti sejumlah catatan kritis seperti kesenjangan data, isu perlindungan perempuan, krisis fiskal, hingga efektivitas layanan aduan publik.

Sejumlah narasumber lain turut memberikan pandangan. Akademisi Gabriel Lele menilai buku ini masih cenderung sebagai publikasi capaian, bukan refleksi mendalam, serta menyarankan visi pembangunan jangka panjang hingga 10 tahun. Dari sisi ekonomi, perwakilan Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik menyebut indikator makro menunjukkan tren positif, meski angka kemiskinan masih berada di kisaran 17,5 persen menjadi bukti adanya “jarak” antara rencana dan realitas.

Menutup kegiatan, Gubernur Melki Laka Lena menyampaikan terima kasih atas kritik yang berkembang dan menyebut kepemimpinan di NTT sebagai “jalan penderitaan” yang harus dijalani dengan tanggung jawab. Ia menegaskan komitmen membangun budaya literasi dan transparansi agar tidak ada jarak antara pemerintah dan rakyat, sekaligus menjadikan catatan kritis sebagai bahan utama refleksi untuk pembangunan NTT yang lebih maju, sejahtera, dan berkelanjutan.

"Kami tidak punya waktu untuk mengeluh. Buku ini adalah bagian dari upaya kami membangun budaya literasi dan transparansi. Kami ingin gagasan diperdebatkan secara sehat agar tidak ada jarak antara pemimpin dan rakyatnya," kata Gubernur Melki.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....