Kalau Tuhan yang Minta, Saya Mau Lepas Tidak? Refleksi Iman dari Kejadian 22:1–19
- 30 Mar 2026 04:15 WIB
- Ende
Poin Utama
- “Pertanyaannya sederhana, tetapi sangat dalam: kalau Tuhan yang minta, apakah kita siap melepas?” katanya. Grace menjelaskan bahwa melepaskan bukan berarti kehilangan, melainkan bentuk kepercayaan bahwa Tuhan menyediakan yang lebih baik.
- “Abraham menunjukkan iman yang luar biasa. Ia tidak mempertanyakan Tuhan, tetapi percaya bahwa Tuhan punya rencana yang terbaik, bahkan ketika perintah itu terasa sangat berat,” ujarnya.
- “Pertanyaannya sederhana, tetapi sangat dalam: kalau Tuhan yang minta, apakah kita siap melepas?” katanya. Grace menjelaskan bahwa melepaskan bukan berarti kehilangan, melainkan bentuk kepercayaan bahwa Tuhan menyediakan yang lebih baik.
RRI.CO.ID,Ende - Program Mutiara Pagi Kristen Protestan Pro 1 RRI Ende kembali menghadirkan perenungan iman yang meneguhkan, bersama Calon Vikaris Grace Sarlina Duka, dengan mengangkat topik reflektif: “Kalau Tuhan yang Minta, Saya Mau Lepas Tidak?” yang diambil dari Kitab Kejadian 22:1–19.
Dalam renungannya, Grace Sarlina Duka mengajak pendengar untuk menyelami kisah iman Abraham yang diuji oleh Tuhan melalui perintah yang tidak mudah: mempersembahkan Ishak, anak yang sangat dikasihinya. Kisah ini, menurutnya, bukan sekadar tentang pengorbanan, tetapi tentang ketaatan total kepada kehendak Tuhan.
“Abraham menunjukkan iman yang luar biasa. Ia tidak mempertanyakan Tuhan, tetapi percaya bahwa Tuhan punya rencana yang terbaik, bahkan ketika perintah itu terasa sangat berat,” ujarnya. Ia menekankan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang percaya juga sering dihadapkan pada situasi di mana harus “melepaskan” sesuatu yang berharga—baik itu keinginan pribadi, kenyamanan, relasi, bahkan rencana hidup.
“Pertanyaannya sederhana, tetapi sangat dalam: kalau Tuhan yang minta, apakah kita siap melepas?” katanya. Grace menjelaskan bahwa melepaskan bukan berarti kehilangan, melainkan bentuk kepercayaan bahwa Tuhan menyediakan yang lebih baik.
Hal ini tercermin dalam akhir kisah Abraham, ketika Tuhan menyediakan domba sebagai pengganti Ishak. Menurutnya, iman sejati tidak diukur dari seberapa sering seseorang berdoa atau beribadah, tetapi dari kesediaan untuk taat, bahkan dalam situasi yang tidak dimengerti.
Ia juga mengajak pendengar untuk membangun relasi yang dekat dengan Tuhan agar mampu mengenali suara-Nya dan memiliki keberanian untuk taat. “Ketika kita dekat dengan Tuhan, kita akan lebih peka terhadap kehendak-Nya, dan lebih kuat untuk melepaskan apa yang Tuhan minta,” katanya.
Melalui perenungan ini, pendengar diajak untuk merefleksikan kembali perjalanan iman masing-masing, serta belajar dari keteladanan Abraham yang taat tanpa syarat. Program Mutiara Pagi diharapkan terus menjadi sumber inspirasi rohani bagi masyarakat, khususnya dalam membangun iman yang kokoh di tengah berbagai tantangan kehidupan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....