Wujud Nyata Toleransi, Pemuda Katolik Labuan Bajo Bantu Amankan Pawai Takbiran
- 20 Mar 2026 20:15 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Perayaan malam takbiran menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menunjukkan kuatnya nilai toleransi antarumat beragama. Selain pengamanan dari unsur TNI-Polri dan pemerintah daerah, pemuda lintas agama turut ambil bagian dalam menjaga kelancaran dan kekhusyukan kegiatan.
Salah satu yang terlibat aktif adalah komunitas Mudika (Muda-mudi Katolik). Mereka membantu mengatur arus pawai di sejumlah titik sepanjang rute perjalanan. Keterlibatan tersebut merupakan hasil koordinasi antara Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Manggarai Barat dengan komunitas gereja setempat.
Ketua PHBI Manggarai Barat, Djainuddin H Ali, menyampaikan bahwa partisipasi pemuda lintas agama dalam kegiatan keagamaan merupakan tradisi yang telah lama terbangun di wilayah tersebut.
“Pawai yang diikuti sekitar 400 hingga 600 peserta ini juga menjadi simbol kerukunan umat beragama di ujung barat Pulau Flores. Inilah bentuk toleransi yang sudah menjadi budaya di Labuan Bajo, kita saling menghargai satu sama lain dalam setiap perayaan keagamaan,” ujarnya saat ditemui di sela kegiatan, Jumat malam, 20 Maret 2026.
Lebih lanjut, dirinya menambahkan, pihak panitia sebelumnya telah menyampaikan undangan resmi kepada komunitas Mudika sebagai bentuk ajakan untuk merayakan momentum kebersamaan dalam bingkai persaudaraan.
“Ketika ada perayaan dari umat lain, kita juga pasti akan hadir membantu. Kebersamaan seperti ini harus terus dijaga,” katanya.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang identik dengan konvoi kendaraan bermotor, pawai takbiran kali ini dilaksanakan dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih tiga kilometer menuju kawasan Waterfront City Labuan Bajo. Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga keamanan dan ketertiban selama kegiatan berlangsung.
Selain itu, peserta juga tidak lagi menggunakan obor bambu, melainkan memanfaatkan lampu dari ponsel pintar guna mengurangi risiko kebakaran, terutama di kawasan padat penduduk.
“Penggunaan obor bambu yang menjadi tradisi lama juga digantikan dengan cahaya lampu dari ponsel pintar guna menghindari risiko kebakaran atau percikan api di sepanjang rute,” ungkapnya.
Adapun dengan kehadiran pemuda lintas agama dalam membantu pengamanan dan pengaturan arus pawai mendapat apresiasi dari masyarakat. Hal ini semakin menegaskan citra Labuan Bajo sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai keberagaman serta keharmonisan antarumat beragama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....