Tujuh Komoditas Perkebunan di Sikka Gerakkan Ekonomi Bernilai Triliunan

  • 28 Feb 2026 18:46 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Sikka – Pemerintah Kabupaten Sikka mencatat sedikitnya tujuh komoditas perkebunan unggulan yang menjadi penopang utama ekonomi masyarakat setempat. Komoditas tersebut meliputi kelapa, kakao, jambu mete, cengkih, pala, lada, dan vanili yang tersebar di berbagai kecamatan.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Markus Dua, mengatakan cengkih menjadi komoditas dengan nilai jual tertinggi dibandingkan komoditas lainnya. Harga cengkih saat ini berkisar Rp100 ribu per kilogram, sementara harga terendah terdapat pada kopra sekitar Rp20 ribu per kilogram.

“Perputaran ekonomi dari tujuh komoditas ini diperkirakan mencapai Rp1,3 triliun per tahun dan menjadi sumber penghidupan utama masyarakat Kabupaten Sikka,” ujar Markus saat ditemui di Kantor Dinas Pertanian Sikka, Rabu 25 februari 2026.

Ia menjelaskan, total luas lahan dari tujuh komoditas unggulan tersebut mencapai sekitar 59 ribu hektare. Produksi tahunannya berada di kisaran 28 ribu ton atau setara 28 juta kilogram per tahun.

Dukungan pengembangan komoditas juga datang dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian RI. Pada 2026, Direktorat Jenderal Perkebunan kembali mengalokasikan anggaran untuk Kabupaten Sikka guna memperluas areal tanam sejumlah komoditas prioritas.

Menurut Markus, pengembangan itu mencakup jambu mete seluas 1.200 hektare, kakao sambung pucuk 2.500 hektare, pala 600 hektare, dan kopi arabika 300 hektare. Total perluasan mencapai kurang lebih enam ribu hektare, sementara besaran harian orang kerja masih menunggu petunjuk teknis resmi.

Data kelompok tani penerima bantuan tahun 2026 pun masih dalam tahap finalisasi. Markus menyebut, hari ini menjadi batas akhir pengiriman data calon petani dan calon lokasi (CPCL) penerima bantuan perkebunan.

Berdasarkan analisis potensi wilayah, kawasan pesisir Magepanda, Alok Barat, Kangae, Waigete, dan Talibura dinilai cocok untuk pengembangan jambu mete. Wilayah dengan ketinggian 0 hingga 400 meter di atas permukaan laut tersebut dianggap ideal untuk pertumbuhan komoditas itu.

Sementara itu, pala berpotensi dikembangkan di daerah dengan ketinggian 500 hingga 800 meter di atas permukaan laut seperti Paga, Tanawawo, Mego, Nita, Doreng, Hewokloang, Bola, Waiblama, dan Talibura. Adapun kakao sambung pucuk dapat ditanam hampir di seluruh wilayah Sikka, sedangkan kopi arabika difokuskan di dataran 800 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut.

Pada 2025, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah telah merealisasikan bantuan perluasan jambu mete 350 hektare, kakao 50 hektare, dan pala 500 hektare. Seluruh kegiatan dinyatakan rampung 100 persen, dengan petani penerima bantuan memperoleh HOK sebesar Rp1.600.000 per hektare setelah melalui verifikasi lapangan sebelum pencairan dana dilakukan Rabu 26 februari 2026

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....