Pangan Lokal Jadi Basis Ekonomi Daerah

  • 25 Feb 2026 14:43 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Kupang – Pangan lokal di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus didorong menjadi basis kekuatan ekonomi daerah. Hal itu disampaikan Kepala Bidang Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, Ivonny Beda saat di wawancarai oleh RRI Ende dalam program Acara Siaran Dialog Florata Pagi, Rabu, 25 Februari 2026.

Ivonny Beda menjelaskan, pangan lokal menjadi kekuatan ekonomi karena sangat sesuai dengan kondisi alam NTT yang kering dan minim air. Komoditas seperti jagung, sorgum, ubi, atau kelor, hingga kenari dinilai adaptif terhadap iklim setempat serta relatif murah dalam proses produksinya.

Ia mengungkapkan, selain mudah dibudidayakan, pangan lokal juga berbasis budaya masyarakat dan memiliki nilai jual yang tinggi apabila dikelola dengan baik. “Pangan lokal ini memperkuat ketahanan pangan sekaligus bisa meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, pengembangan pangan lokal melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, petani, pelaku UMKM, hingga sektor swasta. Tanpa peran petani, kata dia, pelestarian dan penguatan pangan lokal tidak mungkin berjalan optimal.

Ia menambahkan, penguatan pangan lokal sejalan dengan program One Village One Product (OVOP) atau satu desa satu produk yang menjadi arahan Pemerintah Provinsi NTT. Melalui program tersebut, setiap desa didorong mengembangkan satu produk unggulan berbasis potensi lokal guna menggerakkan ekonomi desa.

Ivonny mencontohkan pengolahan ubi lokal yang dapat ditingkatkan nilai tambahnya melalui inovasi dan pengemasan yang lebih baik. Jika dijual dalam bentuk mentah bernilai rendah, maka setelah diolah menjadi produk seperti keripik, nilainya bisa meningkat berkali lipat.

Ia menjelaskan, pemasaran produk pangan lokal dapat menyasar berbagai segmen, termasuk pasar Horeka (hotel, restoran, kafe, dan warung). Dengan demikian, sektor pariwisata juga dapat turut terdorong melalui penggunaan produk pangan lokal NTT.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa sejumlah wilayah di NTT telah memiliki produk unggulan berbasis pangan lokal, seperti jagung di wilayah Timor, jagung pipil di Flores Timur dan Alor, serta komoditas kenari, kelor, dan sorgum yang dinilai sebagai superfood alami.

Ia menambahkan, penguatan pangan lokal telah memiliki dasar hukum melalui Peraturan Gubernur NTT Nomor 80 Tahun 2023. Program tersebut terus didorong dan diperkuat sejak kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur saat ini.

Terkait strategi konkret, Yvonne menjelaskan bahwa pihaknya mendorong diversifikasi konsumsi pangan masyarakat. Ia mengungkapkan, masyarakat perlu memahami bahwa makan kenyang tidak harus selalu dengan nasi, karena pangan lokal juga mengandung karbohidrat tinggi yang dapat menjadi alternatif.

Selain itu, Ia berharap pihaknya ikut mendorong UMKM dan unit pengolahan pangan di NTT agar mengolah produk lokal secara baik dan higienis sehingga memiliki daya saing dan nilai ekonomi lebih luas. “Marilah kita terus menggalakkan menanam dan mengonsumsi pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kita demi terwujudnya ketahanan pangan nasional,” ungkapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....