ESDM NTT Mediasi Warga dan PT NKT

  • 19 Feb 2026 19:57 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Pertemuan antara warga Desa Sangga Rhorho, Dinas ESDM Provinsi NTT, dan manajemen PT Novita Karya Taga (NKT) digelar di lokasi Asphalt Mixing Plant (AMP) milik perusahaan itu, Kamis 19 Februari 2026. Forum ini mempertemukan masyarakat yang mengaku terdampak aktivitas tambang dengan pihak perusahaan serta pemerintah untuk mencari jalan keluar atas polemik yang mencuat.

Kepala Bidang Geologi Air Tanah Mineral dan Batubara Dinas ESDM NTT, Victor Tade, mengatakan pertemuan tersebut dilakukan sebagai respons atas keluhan masyarakat. Menurutnya, forum itu tidak dimaksudkan untuk mencari siapa yang salah, melainkan mencari solusi terbaik bagi warga.

Victor menjelaskan, laporan masyarakat menyebutkan adanya dugaan kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan PT NKT. Atas dasar itu, Dinas ESDM NTT turun langsung memfasilitasi dialog sekaligus melakukan pengecekan lapangan.

Usai mendengar aspirasi warga, seluruh peserta diajak meninjau lokasi yang disebut mengalami kerusakan. Dari hasil pantauan, kata Victor, titik kerusakan yang dikeluhkan tidak berada dalam wilayah Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP) milik PT NKT.

Meski demikian, Dinas ESDM tetap membuka ruang kesepakatan bersama agar keluhan masyarakat dapat ditindaklanjuti. Seorang inspektur tambang dari Kementerian ESDM menegaskan perusahaan hanya boleh beroperasi di dalam batas IUP OP, dan jika ditemukan aktivitas di luar izin, masyarakat dipersilakan melapor ke aparat penegak hukum.

Dari pihak perusahaan, Kepala Produksi PT NKT, Vinsensius, menjelaskan metode penambangan yang digunakan adalah tambang terbuka. Material yang diambil, katanya, berasal dari sedimen di alur tengah sungai dan dimanfaatkan tanpa proses pemisahan lanjutan.

Ia menyebut prinsip yang diterapkan adalah normalisasi sungai dengan mengambil batu berukuran 0 hingga 400 milimeter untuk kebutuhan produksi. Sementara batu berukuran besar dimanfaatkan untuk memperkuat tebing kiri dan kanan sungai, karena tidak dapat dimasukkan ke mesin pemecah batu.

Terkait keluhan dugaan pencemaran yang menyebabkan gatal saat mandi, Vinsensius membantah adanya limbah yang dibuang ke sungai. Ia menyatakan perusahaan juga menggunakan air yang sama untuk kebutuhan sehari-hari, sedangkan limbah cair ditampung di gudang penyimpanan.

Di sisi lain, warga Desa Sangga Rhorho, Ferdinandus Bate, mengaku mengalami kerugian akibat banjir yang menurutnya dipicu aktivitas tambang. Ia menyebut sejumlah tanaman kelapa dan ternak hanyut, sehingga meminta pemerintah menghentikan sementara kegiatan penambangan.

Warga lainnya, Anggi Anwar, menambahkan terdapat sejumlah kesepakatan antara masyarakat dan perusahaan yang belum dipenuhi. Namun ia berharap melalui pertemuan tersebut dapat dicapai solusi bersama agar persoalan serupa tidak kembali terulang di kemudian hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....