STIPAR Ende Soroti Peran Katekis di Tengah Arus Modern

  • 14 Feb 2026 10:20 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende - Ketua Sekolah Tinggi Atma Reksa - STIPAR Ende, Dr. Fransiskus Zaverius M. Deidhae, menegaskan pentingnya integritas guru agama sebagai misionaris modern di tengah arus perubahan zaman. Hal itu disampaikannya dalam seminar nasional yang digelar pada Jumat, 13 Februari 2026, di aula kampus tersebut.

Dalam pemaparannya, Dr. Fransiskus menyoroti perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat, termasuk kemajuan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Menurutnya, situasi ini menghadirkan tantangan serius bagi kehidupan spiritual dan religius umat beriman.

“Katekis sebagai pendidik iman memiliki peran strategis dalam menanamkan ajaran agama. Namun, mereka kini berhadapan dengan tantangan baru akibat sekularisme dan kemajuan teknologi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sekularisme yang menekankan pemisahan antara agama dan kehidupan sehari-hari telah memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap iman. Mengutip survei Gallup tahun 2021, lebih dari 50 persen responden di negara-negara Barat menganggap agama tidak lagi penting dalam kehidupan mereka. Kondisi ini, kata dia, menunjukkan kecenderungan mengabaikan aspek spiritual dan menjadikan agama sebagai pilihan sekunder.

Selain sekularisme, individualisme juga menjadi tantangan besar, dimana laporan Institute for Social Research (2022) menunjukkan sekitar 60 persen generasi muda mengidentifikasi diri sebagai “spiritual tetapi tidak religius”. Fenomena ini memperlihatkan adanya pencarian makna hidup tanpa keterikatan pada ajaran agama tertentu, sehingga memunculkan kesenjangan antara nilai spiritual dan praktik keagamaan tradisional.

Menurut Dr. Fransiskus, perpaduan antara sekularisme, kapitalisme, dan individualisme menciptakan lingkungan yang semakin menantang bagi umat Katolik dalam mempertahankan iman. Banyak umat merasa terasing dari komunitas gereja, yang pada akhirnya berdampak pada menurunnya partisipasi dalam kegiatan keagamaan.

Sementara itu, dalam konteks lokal, ia juga menyinggung dinamika kehidupan beragama di Flores. Sejumlah studi menunjukkan bahwa sebagian umat Katolik masih kuat berpegang pada tradisi agama asli atau animisme dibandingkan dengan ajaran Katolik sebagai agama modern yang dianut.

Menurutnya, dalam praktik sehari-hari, relasi antara ajaran Katolik dan adat istiadat kerap kali tumpang tindih.

“Di tengah modernitas, ada kelompok yang justru ingin kembali ke masa lalu sebagai bentuk protes terhadap perkembangan zaman. Fundamentalisme dan terorisme merupakan wujud ketakutan terhadap heterogenitas dan lahirnya identitas baru,” katanya.

Karena itu, ia menekankan bahwa guru agama harus memiliki integritas yang kokoh dan mampu menjadi jembatan antara iman dan realitas modern. Guru agama tidak hanya dituntut menguasai ajaran, tetapi juga mampu berdialog dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri iman.

Seminar nasional tersebut diharapkan menjadi ruang refleksi bagi para pendidik iman untuk memperkuat komitmen dan peran mereka sebagai misionaris modern di tengah tantangan global yang kian kompleks.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....