Abu Vulkanik Ile Lewotolok Cemari Air Delapan Desa

  • 09 Feb 2026 09:00 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID,Lembata - Aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok kembali membawa dampak serius bagi masyarakat Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Abu vulkanik yang mengendap pasca erupsi mencemari sumber-sumber air, menyebabkan delapan desa mengalami krisis air minum bersih.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata, Andris Koban, mengatakan berdasarkan informasi Pos Pengamatan Gunung Api Ile Lewotolok dan rilis PVMBG Bandung, aktivitas gunung api masih berada pada Level III (Siaga).

“Kolom erupsi masih terpantau setinggi 300 hingga 500 meter dari puncak. Aktivitas sembusan dan erupsi meningkat, disertai lontaran material pijar dan aliran lava yang mulai meluber keluar kawah,” ujar Andris Koban saat diwawancarai RRI,Senin, (9/2/2026).

Menurutnya, sebaran abu vulkanik berdampak luas, khususnya di Kecamatan Ile Ape, Ile Ape Timur, Buyasuri, dan Omesuri. Dari puluhan desa terdampak, terdapat delapan desa yang mengalami kesulitan serius dalam mengakses air minum bersih.

“Delapan desa ini bergantung pada air hujan yang ditampung di bak atau drum. Namun, abu vulkanik yang menempel di atap rumah ikut mencemari air tampungan,” katanya.

BPBD mencatat, dari delapan desa tersebut, enam desa berada dalam kondisi paling parah karena tidak memiliki sumber mata air sama sekali. Air yang sebelumnya jernih kini berubah warna menjadi keruh, kecokelatan, bahkan keabu-abuan hingga kehitaman.

“Hasil asesmen menunjukkan air terasa asam, pahit, dan berbau logam karena tercampur material vulkanik seperti belerang dan sulfat. Kondisi ini berisiko bagi kesehatan, terutama bayi, balita, ibu hamil, dan lansia,” jelas Andris.

Selain itu, abu vulkanik juga menyumbat pipa, filter air, dan bak penampung, sehingga mengganggu sistem distribusi air bersih. Proses klorinasi pun menjadi tidak efektif akibat tingginya kandungan abu.

Sebagai langkah penanganan darurat, BPBD Kabupaten Lembata telah mengaktifkan klaster air bersih dan sanitasi serta berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk mengantisipasi dampak kesehatan masyarakat.

“Kami fokus pada suplai air bersih. Namun, keterbatasan anggaran membuat distribusi air tangki belum mampu memenuhi kebutuhan ideal masyarakat, yakni sekitar 15 liter per orang per hari,” ungkapnya.

BPBD juga tengah berkoordinasi dengan pihak swasta, perbankan, serta BNPB untuk dukungan jangka panjang berupa pembangunan sumur bor di desa-desa terdampak.

“Distribusi air tangki hanya solusi sementara. Yang dibutuhkan masyarakat adalah sumber air bersih permanen agar tidak terus bergantung pada bantuan,” tegas Andris.

BPBD mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan air, dengan cara mengendapkan, menyaring, dan merebus air hingga benar-benar matang sebelum dikonsumsi.

“Untuk mandi dan mencuci masih bisa, tapi untuk minum harus benar-benar diperhatikan kualitas airnya,” ujarnya.

Saat ini, Kabupaten Lembata masih berstatus siaga darurat bencana erupsi Gunung Ile Lewotolok, dengan seluruh unsur terkait disiagakan untuk penanganan lanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....