Hujan Ekstrem di Matim Tak Picu Gagal Panen
- 08 Feb 2026 13:30 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Borong – Hujan ekstrem yang melanda Kabupaten Manggarai Timur dalam beberapa pekan terakhir dipastikan tidak memicu gagal panen secara massal. Pemerintah daerah menyebut sebagian besar lahan pertanian masih dalam kondisi aman dan produktif, meski terdapat kerusakan terbatas akibat banjir dan tanah longsor di sejumlah titik.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai Timur, Yohanes Sentis, mengatakan dampak hujan deras terhadap persawahan secara umum tidak signifikan. Hal itu disampaikannya saat wawancara bersama RRI, Kamis, 5 Februari 2026. Menurutnya, beberapa sawah di Kecamatan Lambaleda Utara sempat terendam banjir dengan luasan sekitar dua hingga tiga hektar, namun air segera surut dan tidak mengganggu pertumbuhan tanaman padi.
Dampak terparah justru terjadi akibat tanah longsor di Kecamatan Lambaleda, tepatnya di Desa Goreng Meni. Sekitar 4,45 hektar sawah milik 43 kepala keluarga tertutup material longsor sehingga tidak dapat lagi diolah sebagai sawah. Kondisi tersebut membuat sebagian petani memilih tidak melanjutkan budidaya padi dan berencana beralih ke tanaman perkebunan atau porang yang dinilai lebih aman dari risiko bencana.
Selain persawahan, hujan ekstrem juga berdampak pada sektor perkebunan dan hortikultura. Sejumlah tanaman cengkeh, kopi, dan kakao mengalami kerusakan akibat pohon tumbang dan angin kencang, sementara tanaman hortikultura seperti buncis rusak pada bagian penyangga.
Meski demikian, Yohanes menegaskan ancaman yang lebih serius saat ini bukan berasal dari hujan, melainkan serangan hama tikus pascabanjir. Hama tersebut dilaporkan menyerang tanaman padi dan jagung di Kecamatan Lambaleda Utara, Sambirampas, dan Elar. “Hama tikus justru lebih berpotensi menyebabkan penurunan produksi dibandingkan genangan air hujan,” kata Yohanes.
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur telah mengajukan bantuan pestisida ke Pemerintah Provinsi NTT dan diperkirakan akan diterima dalam waktu dekat. Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai terkait perbaikan bendungan di Sambirampas, dengan rencana pengaliran air irigasi mulai 10 Februari untuk mengairi sekitar 293 hektar sawah yang sempat tertunda masa tanamnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....