Energi Bersih Dorong Kemandirian Perempuan Flores Timur

  • 02 Jul 2025 08:35 WIB
  •  Ende

KBRN, Flores Timur: Transisi energi bersih bukan hanya perkara teknologi, melainkan tentang keadilan sosial, kemandirian komunitas, dan kepemimpinan perempuan. Hal ini menjadi semangat utama dalam diskusi terbuka bertajuk "Dari Matahari ke Dapur: Energi Bersih, Perempuan Tangguh, Ekonomi Tumbuh", yang digelar di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Senin (30/6/2025).

Kegiatan ini merupakan bagian dari program We for JET (Women and Vulnerable Group Benefited and Lead on Transformative and Just Energy Transition in Indonesia), yang memasuki tahun ketiga pelaksanaannya. Program tersebut mendampingi 12 komunitas dari enam desa di Flores Timur dalam pengembangan Rumah Energi Matahari (REM) dan ekonomi sirkular berbasis kelapa, dengan perempuan sebagai garda terdepan.

Asisten Sekda Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Adrianus Benga Ama Lamabelawa, S.H., mewakili Bupati Flores Timur Ir. Antonius Doni Dihen, membuka secara resmi kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, Adrianus menekankan pentingnya mencari solusi energi terbarukan di tengah krisis energi fosil yang kian mengancam stabilitas ekonomi, sosial, dan lingkungan.

“Menghadapi persoalan ini dan bercermin pada langkah-langkah YPPS, kita melihat bahwa energi terbarukan bukanlah sesuatu yang mahal dan rumit. Justru, masyarakat bahkan perempuan mampu mengelolanya secara mandiri,” ujar Adrianus. Ia menilai Flores Timur memiliki potensi besar sebagai daerah tropis yang bisa mengembangkan energi matahari secara luas untuk kesejahteraan masyarakat.

Adrianus juga menegaskan bahwa Program We for JET perlu dikembangkan lebih luas karena tak hanya mendorong pemanfaatan energi, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi keluarga dan literasi energi. Ia berharap diskusi ini menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman dari para perempuan lokal sebagai pelaku langsung perubahan.

Sementara itu, Direktur YPPS Melky Koli Baran menegaskan bahwa REM bukan hanya alat, tetapi simbol transformasi: dari panas matahari menjadi energi produktif di dapur, dari ketergantungan menuju kemandirian, dari pasif menjadi pemimpin. “Kami melihat perempuan tidak hanya sebagai penerima manfaat, tapi sebagai penggerak utama perubahan,” katanya.

Diskusi ini juga dihadiri Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Apolinardus Yosef Lia Demoor, STP., MM., para kepala desa dari wilayah dampingan YPPS, dan tokoh masyarakat setempat. Acara ini menggambarkan bahwa energi bersih, jika dikelola secara inklusif dan partisipatif, mampu menggerakkan perubahan sosial yang signifikan—dimulai dari dapur hingga ke ruang-ruang kebijakan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....